<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sastra Arsip - Lebur.id</title>
	<atom:link href="https://lebur.id/category/literasi/sastra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lebur.id/category/literasi/sastra/</link>
	<description>Asyik dan Mendidik</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Oct 2024 02:39:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://lebur.id/wp-content/uploads/2020/05/cropped-Lebur.id3_-32x32.png</url>
	<title>Sastra Arsip - Lebur.id</title>
	<link>https://lebur.id/category/literasi/sastra/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Puisi-Puisi Irsyad Rasyid Muhammad</title>
		<link>https://lebur.id/2024/10/15/puisi-puisi-irsyad-rasyid-muhammad/</link>
					<comments>https://lebur.id/2024/10/15/puisi-puisi-irsyad-rasyid-muhammad/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Oct 2024 08:47:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Romantis]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi-Puisi Irsyad Rasyid Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=3883</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bulan Kasih Sayang Tanggal 14 pukul sembilan Di sebuah malam Pada bulan kasih sayang Malam mati ditikam sepi Tak ada suara musik Simponi indah dari sayap-sayap jangkrik Hanya satu bulan Bercahaya dalam malam Bermandikan bintang-bintang Setia terlihat menemani Sedangkan bulan ini Kita belum saling jalan lagi Ah, aku kangen kamu Tapi kamu sibuk dengan alasan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2024/10/15/puisi-puisi-irsyad-rasyid-muhammad/">Puisi-Puisi Irsyad Rasyid Muhammad</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bulan Kasih Sayang</strong></p>
<p>Tanggal 14 pukul sembilan<br />
Di sebuah malam<br />
Pada bulan kasih sayang</p>
<p>Malam mati ditikam sepi<br />
Tak ada suara musik<br />
Simponi indah dari sayap-sayap jangkrik</p>
<p>Hanya satu bulan<br />
Bercahaya dalam malam<br />
Bermandikan bintang-bintang<br />
Setia terlihat menemani<br />
Sedangkan bulan ini<br />
Kita belum saling jalan lagi</p>
<p>Ah, aku kangen kamu<br />
Tapi kamu sibuk dengan alasan tetek bengek<br />
Rinduku semakin menumpuk di saku<br />
Sebentar lagi merobek-robek baju</p>
<p><strong>Malam- Malam Sakral</strong></p>
<p>Malam-malam yang ingin aku lalui bersamamu<br />
Adalah malam yang beratap sunyi<br />
Kata-kata lenyap ditelan letih<br />
Bau tubuhmu menjadi menu malam paling gurih</p>
<p>Tak berapa lama lampu dan api padam<br />
Hanya puisi yang masih terjaga<br />
Memulangkan senyum dan peluh<br />
Bersembunyi di balik pintu</p>
<p>Lalu, engkau siapkan pagelaran sakral<br />
Menggelar upacara di ranjang<br />
Memainkan peran dan lelakon<br />
Membuat perutmu sebentar lagi bulat seperti melon</p>
<p><strong>Nasib Kata</strong></p>
<p>Hampir setiap malam<br />
Aku menuliskanmu puisi<br />
Dan kau bahagia<br />
Dia telah menjadi milikmu yang abadi</p>
<p>Kau bertanya,<br />
Dengan milyaran deret kata<br />
Bagaimana nasib kata yang melimpah ruah di semesta<br />
Bila tak menjadi bagian puisi pada akhirnya?</p>
<p>Ku jawab,<br />
Sama sekali tidak berarti bagiku puisi di semesta<br />
Bila tak ada kau di dalamnya</p>
<p><strong>Secangkir Kopi</strong></p>
<p>Apa boleh kutanyakan padamu<br />
Apa ada yang lebih merdu<br />
Dari secangkir kopi di malam hari?</p>
<p>Apa boleh kutanyakan padamu<br />
Apa ada yang lebih menderu<br />
Dari secangkir kopi di malam hari?</p>
<p>Disingkarkannya kantuk<br />
Disapunya letih hari buruk<br />
Padahal ibuku bilang tidurmu nikmat<br />
Bila kantuk kau peluk di dalam selimut<br />
Lalu ngorokmu membuat jangkrik di pelataran rumah menggerutu kecut</p>
<p>Maka, kubuat kopiku malam ini<br />
Sengaja kuairi dengan rindu<br />
Yang sementara sebulan ini<br />
Menyiksa dengan apa saja berbau tentangmu</p>
<p>Sambil kubaca kabar dari surat kabar<br />
Ada banyak kasus pembunuhan<br />
Sementara yang lainnya banyak orang mati<br />
Karena ditikam kerinduan</p>
<p>Tak lupa kupenuhi gula setengah<br />
Setengah lagi sudah dipenuhi manis wajahmu</p>
<p>Seketika kopi sudah jadi<br />
Kuaduk perlahan<br />
Kuseduh senikmat-nikmatnya<br />
Namun, tak jua nikmat<br />
Mungkin lidahku mati rasa<br />
Atau mungkin saja<br />
Rasa-rasanya rindu<br />
Yang perlahan mematikanku</p>
<p>Apa boleh kutanyakan padamu<br />
Apa ada yang lebih syahdu<br />
Dari secangkir kopi di malam hari?</p>
<p>Kopiku yang dingin<br />
Menjawab dengan dingin<br />
Ada, yaitu</p>
<p>“Rindu yang mengoyak-oyak kesadaranmu”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***</p>
<p><strong>Irsyad Rasyid Muhammad</strong> adalah pengajar sains yang senang mengukir puisi sebagai salah satu alternatif mengendapkan kenangan-kenangannya. Kumpulan Puisi-nya telah termuat dalam buku Rahasia-rahasia Lakon Kahyangan (2024). Bisa dihubungi pada instagram irsyad_amanda.</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2024/10/15/puisi-puisi-irsyad-rasyid-muhammad/">Puisi-Puisi Irsyad Rasyid Muhammad</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2024/10/15/puisi-puisi-irsyad-rasyid-muhammad/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi-Puisi Okki Siolemba</title>
		<link>https://lebur.id/2024/10/04/puisi-puisi-okki-siolemba/</link>
					<comments>https://lebur.id/2024/10/04/puisi-puisi-okki-siolemba/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Oct 2024 16:42:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=3831</guid>

					<description><![CDATA[<p>KAMUS LOBUS FRONTAL Jinjing kepala lepas dari fantasi dari seorang filsuf harian nasabah atensi Sudahlah muak kukatakan kenyang makan saja tuturmu bujang! selaput otak pecah jiwaku berdarah Ingin kuatur dunia imbasnya ditelanjangi hingga kekanak-kanakan Pengampu kode etik kaum elit libas sekelompok pengubah dunia gabungan dua eksem atau lebih Semua idiom semata Kamus spiritual formula vertikal [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2024/10/04/puisi-puisi-okki-siolemba/">Puisi-Puisi Okki Siolemba</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KAMUS LOBUS FRONTAL</strong></p>
<p>Jinjing kepala lepas dari fantasi</p>
<p>dari seorang filsuf harian nasabah atensi</p>
<p>Sudahlah muak kukatakan kenyang</p>
<p>makan saja tuturmu bujang!</p>
<p>selaput otak pecah</p>
<p>jiwaku berdarah</p>
<p>Ingin kuatur dunia</p>
<p>imbasnya ditelanjangi hingga kekanak-kanakan</p>
<p>Pengampu kode etik kaum elit</p>
<p>libas sekelompok pengubah dunia</p>
<p>gabungan dua eksem atau lebih</p>
<p>Semua idiom semata</p>
<p>Kamus spiritual</p>
<p>formula vertikal</p>
<p>evakuasi kami!</p>
<p>kami tak mengerti bahasa binatang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>LANGIT-LANGIT NIBIRU</strong></p>
<p>Lorong waktu menjadi gagu</p>
<p>celah detik menjelma resah</p>
<p>Ketika tutur melampaui sendu</p>
<p>kiasan mendesah</p>
<p>Basah,</p>
<p>ruangan padat cemburu</p>
<p>kutemukan nadi meraba siluet</p>
<p>abu-abu bertanya siapakah sebab</p>
<p>Tanyakan hangat di kursi bekas kududuk</p>
<p>Tanyakan dingin di pelataran angkasa kuberdiri</p>
<p>Hampa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>RAYUAN SETENGAH KOPLING</strong></p>
<p><em>“Diam itu emas, </em></p>
<p><em>emas itu diam,</em></p>
<p><em>Diam bukan berarti emas,</em></p>
<p><em>emas bukan berarti diam”</em></p>
<p>Nomor handphone kamu berapa?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>TERPAKSA TUMBUH</strong></p>
<p>Kulihat senyum tak lagi berseri</p>
<p>Kulihat damai tak lagi bersemi</p>
<p>Tanah pelarian, memaksa bahagia tumbuh</p>
<p>dibiarkan terus berdusta</p>
<p>berhamburan tak bermakna</p>
<p>lorong-lorong waktu</p>
<p>mendung tiba</p>
<p>gelap, pekat menusuk hati</p>
<p>hujan jatuh</p>
<p>salamkan bimbang</p>
<p>berbisik,</p>
<p>Kenangan basahi pipi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>KISAH DOA YANG </strong></p>
<p><strong>MERINDUKAN PENYESALAN</strong></p>
<p>Gunung-gunung menjulang, pundak terbenam</p>
<p>gejolak ajal meletup-letup menagih waktu</p>
<p>Jiwa resah dibuai putus asa</p>
<p>terombang-ambing kecemburuan hidup</p>
<p>keindahan semakin angkuh</p>
<p>sebab-sebab air mata bertetesan</p>
<p>“<em>jemputlah nurani</em>!”</p>
<p>&#8211; bisikkan cahaya menyelinap kalbu</p>
<p>“<em>oh, doa! </em></p>
<p><em>terima kasih untuk kesekian kali</em>”</p>
<p>&#8211; menengadah angkasa.</p>
<p>___________________________________________________________</p>
<p><strong>Okki Siolemba</strong> adalah seorang mahasiswa sekaligus penulis buku puisi<em><strong> “Rahasia Sunyi” (2022) </strong></em>yang kesehariannya menghabiskan waktu untuk belajar menemukan inovasi dan kreativitas baru. Biasanya penulis mendengarkan banyak lagu dari berbagai genre musik, membaca banyak puisi dari banyak penyair di seluruh dunia serta mengulik fenomena kisah asmara orang-orang untuk dijadikan inspirasi lalu dituangkan ke dalam sebuah karya seni sastra berbentuk puisi. Berbeda dengan latar belakang penulis yang berasal dari keluarga seni musik, ia mencoba menerobos batasan-batasan bakat yang tidak dimilikinya.</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2024/10/04/puisi-puisi-okki-siolemba/">Puisi-Puisi Okki Siolemba</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2024/10/04/puisi-puisi-okki-siolemba/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Resolusi Jihad&#8221; Raih Juara 1 Lomba Cipta Syi&#8217;ir Piala Rektor IAIN Madura</title>
		<link>https://lebur.id/2022/10/28/resolusi-jihad-raih-juara-1-lomba-cipta-syiir-piala-rektor-iain-madura/</link>
					<comments>https://lebur.id/2022/10/28/resolusi-jihad-raih-juara-1-lomba-cipta-syiir-piala-rektor-iain-madura/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2022 13:56:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=2373</guid>

					<description><![CDATA[<p>PAMEKASAN, Lebur.id &#8211; Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Madura sukses menggelar lomba Cipta Syi&#8217;ir dalam rangka memeriahkan Hari Santri Nasional Tahun 2022. Sebanyak 42 peserta ikut dalam lomba yang berlangsung dari tanggal 1-15 Oktober 2022 tersebut. Mereka mengirim naskah syi&#8217;iran berbahasa Arab dan Madura secara online untuk memperebutkan Piala Rektor serta uang pembinaan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2022/10/28/resolusi-jihad-raih-juara-1-lomba-cipta-syiir-piala-rektor-iain-madura/">&#8220;Resolusi Jihad&#8221; Raih Juara 1 Lomba Cipta Syi&#8217;ir Piala Rektor IAIN Madura</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="p1">PAMEKASAN, Lebur.id &#8211; Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Madura sukses menggelar lomba Cipta Syi&#8217;ir dalam rangka memeriahkan Hari Santri Nasional Tahun 2022.</p>
<p class="p1"><span class="s1">Sebanyak 42 peserta ikut dalam lomba yang berlangsung dari tanggal 1-15 Oktober 2022 tersebut. Mereka mengirim naskah syi&#8217;iran berbahasa Arab dan Madura secara online untuk memperebutkan Piala Rektor serta uang pembinaan yang mencapai puluhan juta rupiah.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Adapun rinciannya, juara I memperoleh Piala Rektor dan uang pembinaan sebesar 5 juta rupiah, juara II Piala Wakil Rektor I dan uang pembinaan 3 juta 500 ribu rupiah, juara III mendapat Piala Wakil Rektor II dan uang pembinaan 2 juta 750 ribu rupiah, dan juara IV atau juara harapan mendapat Piala Wakil Rektor III dan uang pembinaan sebesar 2 juta rupiah.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">&#8220;Lomba syi&#8217;iran ini digagas dalam rangka memperkuat program-program moderasi beragama, ternyata para pemenang juga banyak menyentuh materi-materi tentang moderasi beragama kaitannya dengan Hari Santri,&#8221; terang Ketua LP2M IAIN Madura, Drs. Moh. Mashur Abadi, M.Fil.I, kepada Lebur.id, Jum&#8217;at (28/10/2022).</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Berdasarkan keputusan dewan juri, perserta atas nama Moh. Hasan asal Desa Bangkes Kecamatan Kadur, Pamekasan, berhasil menyabet juara 1 dengan dengan karya syi&#8217;irnya yang berjudul &#8216;Resolusi Jihad Nambai Semangat Santri Abillai Nagara&#8217;, mendapat 253 poin.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Juara 2 diraih oleh M. Hafid Mahmud asal Desa Konang Kecamatan Galis, Pamekasan, dengan jumlah poin 238. Juara 3 Abdullah Hanif Ilyasi asal Desa Kapong Kecamatan Batumarmar, Pamekasan, 237 poin. Sedangkan juara harapan diraih oleh Shohibul Kahfi asal Desa Bulay Kecamatan Galis, Pamekasan, dengan 235 poin.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Rektor IAIN Madura, Dr. H. Saiful Hadi, M.Ag., mengapresiasi adanya lomba Cipta Syi&#8217;ir tersebut. Menurutnya, karya Syi&#8217;ir yang diciptakan oleh peserta dapat menggugah kembali sejarah bangsa tentang perjuangan Kyai Hasyim Asy&#8217;ari dalam mencetuakan Resolusi Jihad. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">&#8220;Nah, semangat inilah kita jadikan momentum Resolusi Jihad dalam rangka penguatan pemahaman keagamaan yang moderat untuk melawan radikalisme, ekstrimisme dan terorisme,&#8221; ujarnya, Jum&#8217;at (28/10/2022).</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">&#8220;Semoga program-program moderasi beragama kedepan dapat lebih kreatif dan lebih substantif dari simpul kampus untuk bisa menyapa masyarakat secara luas yang ada di Madura,&#8221; pungkasnya. (lum/isa)</span></p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2022/10/28/resolusi-jihad-raih-juara-1-lomba-cipta-syiir-piala-rektor-iain-madura/">&#8220;Resolusi Jihad&#8221; Raih Juara 1 Lomba Cipta Syi&#8217;ir Piala Rektor IAIN Madura</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2022/10/28/resolusi-jihad-raih-juara-1-lomba-cipta-syiir-piala-rektor-iain-madura/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerpenis Ongky Arista UA Apresiasi Bulan Literasi SMK Sumber Nangka</title>
		<link>https://lebur.id/2022/09/09/cerpenis-ongky-arista-ua-apresiasi-bulan-literasi-smk-sumber-nangka/</link>
					<comments>https://lebur.id/2022/09/09/cerpenis-ongky-arista-ua-apresiasi-bulan-literasi-smk-sumber-nangka/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2022 03:02:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fokus]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=2353</guid>

					<description><![CDATA[<p>PAMEKASAN, Lebur.ID- Bulan Literasi OSIS SMK Sumber Nangka, Pondok Pesantren Miftahul Hidayah, Sumber Nangka, Desa Duko Timur, Kecamatan Larangan, Pamekasan kembali digelar, Jumat (9/9/2022). Tema kali ini yakni Menulis Cerpen. Cerpenis Ongky Arista UA menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut. Sebelum memulai diskusi, Ongky memberikan apresiasi atas terlaksananya Bulan Literasi. Menurutnya, tidak banyak pesantren yang menggelar [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2022/09/09/cerpenis-ongky-arista-ua-apresiasi-bulan-literasi-smk-sumber-nangka/">Cerpenis Ongky Arista UA Apresiasi Bulan Literasi SMK Sumber Nangka</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="p1"><span class="s1">PAMEKASAN, Lebur.ID- Bulan Literasi OSIS SMK Sumber Nangka, Pondok Pesantren Miftahul Hidayah, Sumber Nangka, Desa Duko Timur, Kecamatan Larangan, Pamekasan kembali digelar, Jumat (9/9/2022). Tema kali ini yakni Menulis Cerpen. Cerpenis Ongky Arista UA menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Sebelum memulai diskusi, Ongky memberikan apresiasi atas terlaksananya Bulan Literasi. Menurutnya, tidak banyak pesantren yang menggelar kegiatan dengan fokus kajian literasi selama sebulan penuh. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">&#8220;Ini mungkin satu-satunya pesantren di Pamekasan, atau mungkin di Madura, yang fokus kepada literasi,&#8221; kata Ongky. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Ketua Forum Wartawan Pamekasan (FWP) itu menjelaskan bahwa pesantren-pesantren lain juga punya kegiatan literasi, tapi biasanya digabung dengan acara-acara lain. Seperti di Pondok Pesantren Bata-Bata dengan kegiatan Pekan Ngajinya atau Pondok Pesantren Annuqayah dengan Festival Cinta Buku. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">&#8220;Tapi yang menggelar kegiatan dengan fokus seperti Bulan Literasi mungkin baru di sini,&#8221; tambahnya. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Dalam kesempatan itu, Ongky bercerita tentang perjalanan kepenulisannya. Dia berkisah bahwa pada mulanya menulis cerpen karena kecelakaan. Suatu ketika, dalam perjalanan dari kota Sumenep menuju kecamatan Bluto, dia mengalami kecelakaan. Kisah itulah yang kemudian ditulis jadi cerpen. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Ongky juga memberi motivasi bahwa menjadi penulis itu memiliki kelebihan tersendiri. Disamping bisa mengangkat popularitas, juga dapat menghasilkan materi. Sebab ketika tulisan dimuat, seperti cerpen, maka akan dapat honor dari medianya. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">&#8220;Misalnya cerpen yang dimuat di Kompas bisa dapat honor hingga Rp 1,5 juta, di Jawa Pos antara Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta,&#8221; jelasnya. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Untuk memulai menulis cerpen, Ongky memberi tips yang mudah dilakukan oleh para santri. Salah satunya dengan membaca cerpen minimal dua judul setiap harinya. Setelah membaca, kemudian mencoba memulis. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">&#8220;Mustahil seseorang bisa jadi penulis kalau dia tidak suka baca buku. Teman-teman yang banyak baca buku, punya potensi besar untuk menjadi penulis,&#8221; tegas Pemimpin Redaksi KabarMadura.ID tersebut. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Sementara itu, dalam sambutan mewakili Kepala SMK Sumber Nangka, Bahrul Rosi mengatakan bahwa kegiatan ini harus diikuti dengan serius. Sebab menurutnya kegiatan literasi memiliki banyak manfaat. Terutama dalam mengasah kemampuan siswa dalam memulis. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Bahrul menjelaskan bahwa kegiatan Bulan Literasi digelar secara berseri selama September 2022. Tema yang didiskusikan yakni, Menulis Puisi, Menulis Cerpen, Menulis Resensi, Menulis Opini, dan Menulis Berita. (fer/isa)</span></p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2022/09/09/cerpenis-ongky-arista-ua-apresiasi-bulan-literasi-smk-sumber-nangka/">Cerpenis Ongky Arista UA Apresiasi Bulan Literasi SMK Sumber Nangka</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2022/09/09/cerpenis-ongky-arista-ua-apresiasi-bulan-literasi-smk-sumber-nangka/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puan dengan Secangkir Kopi</title>
		<link>https://lebur.id/2020/10/16/puan-dengan-secangkir-kopi/</link>
					<comments>https://lebur.id/2020/10/16/puan-dengan-secangkir-kopi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2020 10:07:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=807</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cerpen: Iim Halimatus Sadiyah Mungkin kita hanya perlu sering-sering ngopi sambil berbincang ke sana kemari. Duduk berdua saling memahami. Agar tidak ada yang pergi hanya karena salah memaknai diksi. Sudah diakhir bulan sebelas. Bulan yang aku namai bulan perpisahan. Entah mengapa sudah tiga tahun berturut-turut perpisahan suka sekali menghampiriku pada bulan ini. Ya, aku tahu [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/10/16/puan-dengan-secangkir-kopi/">Puan dengan Secangkir Kopi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Cerpen: Iim Halimatus Sadiyah</strong></em></p>
<p><em>Mungkin kita hanya perlu sering-sering ngopi sambil berbincang ke sana kemari. Duduk berdua saling memahami. Agar tidak ada yang pergi hanya karena salah memaknai diksi.</em></p>
<p>Sudah diakhir bulan sebelas. Bulan yang aku namai bulan perpisahan. Entah mengapa sudah tiga tahun berturut-turut perpisahan suka sekali menghampiriku pada bulan ini. Ya, aku tahu setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Hanya saja, aku selalu tidak siap dengan perpisahan.</p>
<p>Mery, Arman, dan Hendra, aku kehilangan mereka pada bulan November. Kebersamaanku dengan Mery hanya dua bulan, sebelum akhirnya dia meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku menemukannya sudah tidak bernyawa di aquarium bulat berukuran 2 liter. Kopi tubruk yang sedang aku bawa untuk dinikmati, terlepas dari tanganku. Jatuh ke lantai dan mengenai celana dan kakiku. Panas sekali, yang kemudian disusul rasa perih, juga sedih karena harus kehilangan ikan mas koki jenis <em>black moor</em> yang aku beli di pasar hewan.</p>
<p>Arman dan aku menghabiskan waktu bersama selama satu bulan. Lebih cepat dia meninggalkankudaripada Mery. Kali ini bukan ikan, melainkan hamster kerdil <em>campbell</em> yang berwarna coklat gelap. Dia meninggalkanku pada tanggal tujuh November tahun ini. Tidak ada insiden gelas kopi jatuh, tapi tentu sedih kembali menghampiri karena kehilangan hewan peliharaan yang aku cintai.</p>
<p>Tahun lalu aku kehilangan Hendra sejak November mengawali harinya. Hendra paling lama menemani hari-hariku ketimbang Mery dan Arman.Hampir sepuluh bulan ia selalu di sampingku, menemani saat aku butuh teman untuk ngopi, dan tanpa pernah bosan mengirim pesan, “Selamat pagi, jangan lupa ngopi.”Ia tidak mati, ia pergi.</p>
<p>Mahendra Wardana, namanya. Kekasihku. Maaf aku ralat, mantan kekasihku. Maaf juga kalau kalian mengira ia hewan peliharanku. Sungguh aku tidak bermaksud membandingkannya, aku hanya ingin bercerita tentang siapa saja yang meninggalkanku di bulan November. Itu saja.</p>
<p>Jangan tanyakan alasan Hendra meninggalkanku, karena saat itu dia pergi tanpa alasan. Hilang ditelan bumi. Lalu, kembali muncul setelah lima bulan berlalu. Tak ada kata putus sampai detik ini. Meski begitu aku anggap semua sudah berakhir sejak dia pergi tanpa permisi.</p>
<p>Ya, layaknya orang bersalah, tentu dia minta maaf padaku. Dia bilang tidak percaya diri, sehingga memutuskan untuk pergi. Alah, alasan basi.Harusnya dia tingkatkan kapasitas diri jika memang tidak percaya diri. Ah, sudahlah, kami juga baik-baik saja saat ini. Meski luka hati ini belum juga terobati.</p>
<p>Besok November berlalu, digantikan oleh bulan penutup selama setahun.Lalu, bersiap menyambut tahun baru sekaligus umur baru, satu perempat abad. Ah, cepat sekali waktu berlalu. Padahal, masih banyak yang ingin aku capai sebelum Desember berlalu. Seperti biasa, resolusi hanya sebatas tulisan. Beruntung masih ada yang berhasil dilaksanakan, seringnya berakhir sebatas pajangan tanpa bisa diwujudkan.</p>
<p>Malam ini, lamunanku yang ditemani secangkir kopi di sebuah kedai tiba-tiba buyar karena panggilan nomor baru tidak dikenal masuk. Aku tidak menjawab panggilan tersebut hingga tiga kali. Malas saja menjawab panggilan dari nomor asing. Lagipula, kalau dia memang ada keperluan penting pasti akan mengirim pesan terlebih dahulu. Kalau pun itu temanku, paling ujung-ujungnya aku diomeli karena tidak mengangkat telpon dari dia.</p>
<p>Aku bukan sok penting, melainkan menjaga diriku. Dua kali aku hampir jadi korban penipuan, satu kali modus minta kenalan, dan entah berapa puluh kali aku diteror dalam tiga harioleh rentenir <em>online,</em> gara-gara aku menanggapi telpon masuk menanyakan orang yang aku sendiri sama sekali tidak mengenalnya.</p>
<p>“Sa, ini aku Arin. Aku butuh kamu. Kamu lagi di mana?” tiba-tiba muncul pemberitahun pesan masuk. Tanpa menunggu lama, aku langsung menelpon Arin. Aku kesal, diluapkan dalam bentuk makian. Pulsaku tidak mencukupi untuk menelpon Arin. Tak lama, telpon dari Arin masuk. Kami mengobrol kurang dari lima menit dan sepakat akan berjumpa besok siangkarena aku harus bekerja terlebih dahulu selama setengah hari.</p>
<p>Di kedai kopi langgananku kami bertemu, bercerita hampir lupa waktu.</p>
<p>“Salsa, makasih ya sudah mau aku ajak ketemu. Aku butuh kamu. Aku butuh teman cerita, Sa,” Arin mulai menyampaikan tujuannya menemuiku.</p>
<p>“Iya, santai saja sih. Enggak usah sok enggak enakan gitulah. Sok, mau cerita apa? Aku dengerin sampai besok juga enggak apa-apa,” kataku</p>
<p>“Ah. Lebay kamu. Gini lho, Sa, aku <em>dijodohin</em>,” dengan wajah sedih, Arin mulai bercerita.</p>
<p>“Bagus dong. Bukannya impianmu ingin segera menikah?” tanyaku.</p>
<p>“Masalahnya, aku enggak suka. Orang tuaku memaksa. Sore ini aku orang yang mau dijodohkan denganku akan datang ke rumah, tapi aku malas menemuinya. Makanya aku <em>ngajak</em> kamu ketemu,” Arin terus bercerita, menyampaikan masalah yang sedang ia hadapi.</p>
<p>“Ya, ampun. Kalau enggak suka, tinggal bilang. Lagian, parah banget kamu ada orang mau ke rumahmalah pergi,” sambil menunggu jawaban Arin, aku menyeruput v60 yang telah aku pesan.</p>
<p>“Bodo amat. Tidak semudah itu menyampaikan, Sa. Kemarin, aku berusaha mengatakan kalau aku tidak suka dijodohkan. Aku mau menikah dengan laki-laki pilihanku sendiri. Eh, aku langsung dibilang anak durhaka karena berani melawan. Padahal aku hanya menyempaikan pendapatku, itupun dengan cara baik-baik.”</p>
<p>Arin kemudian minta tolong kepadaku untuk membantunya. Ia ingin aku menjelaskan ke orang tuanya, kalau dia akan menikah dengan pria yang sesuai dengan kebutuhannya. Sedangkan laki-laki yang dijodohkan denganya bukanlah laki-laki yang ia butuhkan. Arin berharap orang tuanya bisa mengerti dan membatalkan perjodohannya, jika aku yang mengatakan alasan kenapa Arin menolak dijodohkan.</p>
<p>Aku menolak. Ini adalah masalah yang harus dihadapi Arin sendiri. Bagaimana pun, ia sendiri yang harus berbicara dengan orang tuanya. Aku paham, tidak mudah untuk bisa mengungkapkan pendapat, apalagi selama ini Arin tidak pernah diberikan hak bersuara dan memutuskan sesuatu hal di keluarganya. Berbeda dengan kakak dan adik laki-lakinya yang dibebaskan untuk mementukan pilihannya sendiri dan diberikan kebebasan bersuara.</p>
<p>Hari ini, sudah aku jadwalkan untuk bermalas-malasan sambil ditemani lagu Di Penghujung Hari Minggu milik Mocca dan tentu saja secangkir kopi tubruk robusta kesukaanku. Aku hanya bisa membuat kopi tubruk di indekos karena itu yang paling mudah. Saat sedang menyeruput kopi, Ibuku menelpon. Aku sungguh malas mengangkat telpon dari Ibuku. Setelah empat kali panggilan masuk, baru aku angkat.</p>
<p>Sepanjang percakapan lima belas menit, aku lebih banyak diam dan berkata, “Ya.” Ibuku akan lebih lama lagi berbicara jika aku banyak menyangkal perkataanya. Ah, <em>mood</em> hari Mingguku tiba-tiba berantakan. Aku merebahkan tubuhku sembari memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Aku gelisah. Bolak-balik tubuhku menghadap kanan dan kiri agar mendapatnya ide. Ternyata masih kosong. Mungkin aku hanya perlu menghabiskan hari Minggu dengan tidak memikirkan apa-apa terlebih dahulu.</p>
<p>Aku bangkit dan mengambil cangkir kopiku di meja belajar dekat tempat tidur.Lalu, kembali menikmati kepahitannya untuk menenangkan diri. Inilah alasan utama kenapa aku tidak mau membantu Arin. Aku sendiri sedang dihadapkan dengan perjodohan yang mati-matian aku tolak. Laki-laki itu bukan yang aku butuhkan. Malah aku jijik dengannya.</p>
<p>Orang tuaku jelas selalu mengatakan dia laki-laki baik dan cocok untukku. Padahal, mereka sama sekali tidak pernah bertanya laki-laki seperti apa yang aku inginkan, tapi sudah menyimpulkan baik dan cocok begitu saja.</p>
<p>Aku tak sudi menikahi lelaki dengan prinsip perempuan yang baik adalah dia yang diam di rumah dan mencetak anak-anak yang shalih dan shalihah. Hey, menjadi ibu rumah tangga atau perempuan karir adalah pilihan bukan paksaan. Perempuan bebas mau menjadi apapun tanpa harus merasa bersalah dengan pilihannya. Lagipulaaku butuh laki-laki yang mau tumbuh dan berkembang bersama, mau berbagi pekerjaan domestik, dan mau berbagi peran mendidik serta mengasuh anak. Bukan suami yang aku manfaatkan sebagai ATM berjalanku.</p>
<p>Kenapa sulit sekali menyuarakan penolakanku? Jangankan menyuarakan penolakan, menyuarakan pendapat pun susah. Perempuan saat bersuara dibilang pemberontak. Harus mau diatur tanpa bisa menolak. Tak pernah diberikan kesempatakan untuk menentukan pilihanya sendiri. Ah, susah sekali jadi perempuan. Ditambah terlalu banyak konstruksi sosial yang dibebankan kepada kami.</p>
<p>Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Sebelum Hendra menghilang, aku sempat menceritakan seperti apa kehidupan pernikahan yang aku impikan kepadanya. Aku jadi berasumsi, mungkin alasannya tidak percaya diri karena mendengarkan ceritaku itu. Entahlah.</p>
<p>Aku kembali menikmati kopiku. Lagi-lagi aku tidak berdaya. Berusaha melawan, nyatanya kalah hanya karena kalimat, “Dasar anak durhaka.” Ya, aku harus kembali pasrah dan tidak bisa menikmati sepenuhnya hidup versi terbaikku. Akan tetapi, aku bisa terus menikmati menjadi puan dengan secangkir kopi untuk memulai hari, mencari inspirasi, dan menenangkan diri. (*)</p>
<hr />
<p><strong>IIM HALIMATUS SADIYAH:</strong> <em>perempuan penikmat kopi yang lahir di Kota Mangga. Penulis buku antologi Perempuan Menulis (2019), Literasi untuk Negeri Jilid 1 (2019), Nusantara Berkisah 2: Orang-orang Sakti (2019), dan Perempuan Berdaya (2020). Dapat disapa melalui Instagram: @iimhs</em></p>
<hr />
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/10/16/puan-dengan-secangkir-kopi/">Puan dengan Secangkir Kopi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2020/10/16/puan-dengan-secangkir-kopi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi Ach. Jazuli: Republik Anjay</title>
		<link>https://lebur.id/2020/10/07/puisi-ach-jazuli-republik-anjay/</link>
					<comments>https://lebur.id/2020/10/07/puisi-ach-jazuli-republik-anjay/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2020 08:23:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=803</guid>

					<description><![CDATA[<p>Republik Anjay kepada seluruh penghuni wilayah ini silakan untuk segera menyelesaikan rasa dengki terhadap sesama jika tidak bisa, paling tidak hindari tindakan kontak fisik jangan sampai presiden menghukum kita yang berbuat mesum segera dirikan ruangan-ruangan gelap boleh di belakang gedung, di sebelah pasar atau di rumah petinggi sekalian jika tidak mau, setidaknya tidak telanjang di [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/10/07/puisi-ach-jazuli-republik-anjay/">Puisi Ach. Jazuli: Republik Anjay</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Republik Anjay</strong></p>
<p>kepada seluruh penghuni wilayah ini<br />
silakan untuk segera menyelesaikan rasa dengki terhadap sesama<br />
jika tidak bisa, paling tidak hindari tindakan kontak fisik<br />
jangan sampai presiden menghukum kita<br />
yang berbuat mesum segera dirikan ruangan-ruangan gelap<br />
boleh di belakang gedung, di sebelah pasar atau di rumah petinggi sekalian<br />
jika tidak mau, setidaknya tidak telanjang di tengah jalan<br />
jangan sampai presiden mengutuk kita<br />
pun, yang sering judi, merampas dan maling uang rakyat<br />
segera bubarkan keamanan, vakumkan KPK, kuasai revisian undang-undang<br />
jika tidak mungkin, paling tidak kalian bisa menyuap dan mengancamnya<br />
jangan sampai presiden mendakwa kita</p>
<p>sudah menjadi rahasia umum<br />
uang dan kuasa tetap dipercaya sebagai kekuatan<br />
mampu mengalihkan isu-isu besar pada yang tidak penting,<br />
bisa membubarkan pertahanan dengan pura-pura lumpuh,<br />
bisa membuat kebijakan baru diatas penindasan yang sedang merajalela,</p>
<p>yang miskin bisa apa, buat makan-pun tak ada<br />
bicara kuasa, setiap hari hak-haknya semakin di peras<br />
rumahnya di gusur, tanahnya diangkut, hutannya di gunduli, bukit-bukitnya di gali<br />
ujung-ujungnya tetap si miskin yang kalah jika melakukan perlawanan</p>
<p>hidup sudah bak dalam hutan,<br />
peraturan dibuat oleh kuat untuk menjadikannya semakin kuat<br />
yang lemah jadi sasaran panah dibuatnya semakin melemah<br />
seakan yang boleh hidup berkeliaran hanya singa, macan, buaya elang dan kerabatnya</p>
<p>inilah republik anjay<br />
republik yang telah lupa menertawakan bangsanya</p>
<p><em>Tambaksari, 03 September 2020</em></p>
<hr />
<p><strong>ACH. JAZULI:</strong>   lahir di Sumenep pada tanggal 22 April 1999 dari pasangan suami-istri; Ningwar dan Masriya. Pendidikannya ditempuh di berbagai tempat. Pendidikan dasarnya diselesaikan di SDN Tambaksari 3, SLTP dan SLTA-nya di tempuh di lembaga pondok pesantren, yaitu di LPI Darul Ulum Prongpong, kemudian perguruan tingginya konsen di program Studi Tadris Bahasa Indonesia fakultas tarbiyah IAIN Madura.</p>
<hr />
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/10/07/puisi-ach-jazuli-republik-anjay/">Puisi Ach. Jazuli: Republik Anjay</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2020/10/07/puisi-ach-jazuli-republik-anjay/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi-Puisi Joe Hasan: Aku Rindu Lapar</title>
		<link>https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-joe-hasan-aku-rindu-lapar/</link>
					<comments>https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-joe-hasan-aku-rindu-lapar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2020 03:51:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=778</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku Rindu Lapar malam ini aku rindu lapar suara-suara emak dari atas meja menggelinjang masuk dalam kamar tanpa permisi. lalu. “sudah makan?” “mari makan.” kubilang nanti saja. laparku belum datang &#160; malam ini aku rindu lapar bayangannya berenang mengikutiku keriputnya hilang terhapus oleh imajinasi dosa bertumpuk-tumpuk dalam kamar sejak bertemu api dalam nafsu mungkin ia [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-joe-hasan-aku-rindu-lapar/">Puisi-Puisi Joe Hasan: Aku Rindu Lapar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Aku Rindu Lapar </strong></p>
<p>malam ini aku rindu lapar</p>
<p>suara-suara emak dari atas meja</p>
<p>menggelinjang masuk dalam kamar</p>
<p>tanpa permisi. lalu.</p>
<p>“sudah makan?”</p>
<p>“mari makan.”</p>
<p>kubilang nanti saja. laparku belum datang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>malam ini aku rindu lapar</p>
<p>bayangannya berenang mengikutiku</p>
<p>keriputnya hilang terhapus oleh imajinasi</p>
<p>dosa bertumpuk-tumpuk dalam kamar</p>
<p>sejak bertemu api dalam nafsu</p>
<p>mungkin ia sedang merindu juga</p>
<p>ah, senyumnya ada dalam buku</p>
<p>ada dalam dada</p>
<p>perlukah ku belah?</p>
<p>seperti ikaln-iklan di tivi</p>
<p>yang terlalu jauh dari akal sehat</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>suara manis dari mulutmu</p>
<p>oh, malaikat</p>
<p>buatkan aku sebantal guling</p>
<p>aku ingin tidur sementara</p>
<p>menatapmu dalam mimpi</p>
<p>agar tak lagi tua</p>
<p><em> (Surabaya, 2018)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Antara Jayapura dan Sunda</strong></p>
<p>antara jayapura dan sunda</p>
<p>sulawesi bersedia menjadi jembatan</p>
<p>tak perlu takut kehilangan</p>
<p>tak perlu risau karena tak melihat</p>
<p>bukankah cinta sejati tak mengenal jarak</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>tentu kau ingat,</p>
<p>sebelah bola mataku kau rampas</p>
<p>untuk kau ganti dengan bola matamu</p>
<p>dan kita bisa saling memandang</p>
<p>tertawa saat bahagia</p>
<p>menangis saat sedih</p>
<p>lalu berpelukan ketika mimpi benar-benar mengundang malam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ya, malam telah merambat</p>
<p>dan aku ingin naik ke bulan</p>
<p>menari bersamamu, meski tanpa busana</p>
<p>agar sempurna sayap kita</p>
<p>antara jayapura dan sunda</p>
<p>hanyalah berjarak kening dan mata</p>
<p><em>(Bau-Bau,  2017)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Benar Aku Telah Membohongimu</strong></p>
<p>aku benar telah membohongimu</p>
<p>saat malam tenggelam tepat diwajahmu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ucapmu yang ku ingat setahun lalu</p>
<p>memberi warna pada langkah pemuda</p>
<p>seperti rotan yang baru kuanyam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>aku benar telah membohongimu</p>
<p>saat malam tenggelam tepat  di wajahmu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sesaat lagi aku akan berdiri diujung kuku</p>
<p>bersama bidadari-bidadari tak bernama</p>
<p>semisal esok aku tak ada,</p>
<p>benar saja aku telah membohongimu</p>
<p><em>(Bau-Bau,  2017)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Gagal Wawancara</strong></p>
<p>aku tak begitu pandai berdamai dengan hujan</p>
<p>hari ini ia bernyanyi tak berhenti</p>
<p>lalu aku gagal wawancara</p>
<p>aku mencari rumahnya</p>
<p>namun ia belum setengah jalan</p>
<p>kau marah tanpa arah</p>
<p>aku masih mencari asap rokok di atas meja</p>
<p>bau dan rasa kopi yang masih mengingat panci di rumah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>aku gagal wawancara</p>
<p>kau gagal dapat uang banyak</p>
<p>maaf telah membuatmu mondar-mandir</p>
<p>gelisah bersarang dalam kita</p>
<p>dan kita menahannya sekian lama</p>
<p>kulihat kau mulai takut padaku</p>
<p>tenang saja,</p>
<p>meski aku penjahat, aku masih bisa memilih</p>
<p>korban</p>
<p>tidak seperti kau yang kulitpun tak punya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ah, matamu hilang mencari suara hujan</p>
<p>matahari masih malu-malu</p>
<p>kekosongan memegang piala atas kemenangannya</p>
<p>baiklah. ini bukan giliran kita</p>
<p>hujan terlalu lihai mengusir</p>
<p>padahal ini istana milik bersama</p>
<p>lain kali jangan lupa bawa amplop</p>
<p>untuk bungkus hujan</p>
<p>sebelum wawancara selesai</p>
<p><em>(Surabaya,  2018)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kapan Tahun Kita</strong></p>
<p>terakhir tahun ini</p>
<p>apa yang sudah kita siapkan untuk tahun besok?</p>
<p>pernahkah kita ceria untuk menjemput kematian kita sendiri?</p>
<p>lihatlah tanah-tanah yang sekarang kita injak</p>
<p>sesungguhnya ia merindukan tubuhku, tubuh molekmu</p>
<p>cacing-cacing tanah disana sedang menunggu</p>
<p>berpikirlah sejenak</p>
<p>maka berziaralah</p>
<p>agar kelak kita di ziarahi</p>
<p>entah kapan</p>
<p>mungkin setelah tahun ini</p>
<p><em>(Bau-Bau,  2017)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<hr />
<p><strong>JOE HASAN:</strong> l<em>ahir di Ambon pada 22 Februari. Kini Berdomisili di Surabaya, Jawa Timur.  Pecinta Olahraga Taekwondo. Beberapa puisinya pernah dimuat di media lokal dan nasional</em></p>
<hr />
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-joe-hasan-aku-rindu-lapar/">Puisi-Puisi Joe Hasan: Aku Rindu Lapar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-joe-hasan-aku-rindu-lapar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anjing Liar</title>
		<link>https://lebur.id/2020/09/22/anjing-liar/</link>
					<comments>https://lebur.id/2020/09/22/anjing-liar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2020 03:46:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=775</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cerpen: Rikard Diku  Setelah digigit Anjing berkali-kali,  kaki Junaidi berdarah dan tanpa suara ia menangis dalam hati sebab ini sudah tengah malam sedang bulan purnama masih tersenyum angkuh padanya. Aku masih mengintip lewat celah jendela kamar sambil tertawa kecil bercampur takut karena malam itu dua ekor Anjing milik pak Herman menjadi ganas tidak seperti biasanya [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/22/anjing-liar/">Anjing Liar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Cerpen: Rikard Diku</strong></em></p>
<p><strong> </strong>Setelah digigit Anjing berkali-kali,  kaki Junaidi berdarah dan tanpa suara ia menangis dalam hati sebab ini sudah tengah malam sedang bulan purnama masih tersenyum angkuh padanya. Aku masih mengintip lewat celah jendela kamar sambil tertawa kecil bercampur takut karena malam itu dua ekor Anjing milik pak Herman menjadi ganas tidak seperti biasanya dan Junaidi yang kesakitan pelan tapi pasti mundur beberapa langkah ke belakang dengan tangan yang terus berusaha mengusir Anjing di hadapannya sebelum ada lagi seekor Anjing yang disebelah rumah pak Herman kembali menyalak hebat dan aku tiba-tiba melompat ke tempat tidur dengan perasaan takut yang terlalu karena melihat cahaya putih yang menyilaukan mata persis muncul di belakang Junaidi yang kesakitan. Diam-diam dari dalam selimut, aku coba memicingkan mata melihat apa yang terjadi tetapi aku susah payah melihat karena lubang jendela terlalu kecil dan aku hanya melihat purnama meski Aada perasaan takut dan penasaran pada cahaya putih yang menyerupai jenis binatang yang paling besar. Setelah Anjing berhenti menyalak lamat-lamat sunyi yang lebat merambat ke seluruh wilayah kampung juga sampai ke dalam dadaku. Dalam tidur malam itu aku bermimpi yang bukan-bukan dan beberapa kali aku menemukan wajah Junaidi yang kesakitan dan lukanya yang menganga merembes darah merah seperti keadaan Lazarus si miskin dalam kisah Alkitab yang memungut remah-remah dari meja tuan yang kaya, kelak di akhirat si kaya akan sangat menderita hidup di neraka sedang Lazarus hidup bahagia di pangkuan Abraham. Aku sudah berjuang untuk membuang jauh-jauh wajah Junaidi dari kepala tetapi semakin aku berusaha keras menepis mimpi aneh itu tetap saja aku kembali menemukan wajah Junaidi tetapi kali ini wajah Junaidi menyerupai anjing galak yang siap menggigit punggung Rusa di hutan dalam suatu perburuan. Ini baru kali pertama aku memimpikan hal aneh yakni wajah manusia menjelma wajah Anjing liar. Sudah bisa ditebak bahwa malam itu aku susah tidur sampai Ayam membangunkan pagi dan aku sendiri menderita karena dicekik gelisah sampai dinihari lantaran dalam kepalaku seperti ada lebah yang ribut memunculkan wajah Junaidi yang kusut. Aku menerka-nerka kalau Junaidi juga sedang tidak aman atau barangkali ada apa-apa karena beberapa kali gigitan anjing membuatnya meringis kesakitan atau lebih-lebih sosok cahaya putih yang menyerupai binatang tiba-tiba muncul dan membuat suasana malam itu menjadi sunyi, Anjing berhenti menyalak sedang aku tak lagi mendengar suara huss..huss.. dari mulut Junaidi sebagai isyarat mengusir Anjing liar sialan itu. ada satu hal yang aneh, kenapa Junaidi tidak berteriak keras-keras atau meminta tolong ketika diserang Anjing. Mungkin ia menghargai warga yang sudah menuai mimpi atau barangkali ia tak mau menggagalkan mimpi basah kawannya yang berada di rumah seberang jalan. Atau jangan-jangan ia ingin menanggung derita itu sendiri saja tanpa ada yang tahu meski mungkin aku adalah satu-satunya yang melihat kejadian malam itu dengan jantung yang berdebar-debar. Apa pun pikiran yang menghantuiku, malam itu aku berharap ketika aku membuka mata, pagi cepat mampir di jendela dan aku segera menemui Junaidi dan menanyakan kejadian malam itu.</p>
<p>***</p>
<p>Pagi masih terlalu dini ketika kicau ceracau burung-burung di pepohonan menyapa matahari sedang beberapa bulir embun yang bening tanpa malu-malu loncat dari atap juga membentuk garis-garis tak beraturan di jendela kamar selebihnya masih sunyi. Seperti biasa aku akan membuka jendela, melihat sebentar mawar merah yang mekar di belakang rumah, memejamkan mata sebentar sambil membayangkan aku adalah kupu-kupu yang berterbangan di atas mekar bunga-bunga dan mencium wanginya berkali-kali tanpa henti dan kau adalah perempuan yang menyukai kupu-kupu dan berusaha menangkapnya seperti dalam sinetron-sinetron cinta Indonesia  yang membosankan itu atau pagi-pagi begini biasanya aku akan berusaha mendengar nyanyian rohani paling merdu dari Lidya, tetanggaku yang cantik dan seksi itu. Sering ia menyanyikan lagu Ave Maria selain karena ini adalah bulan Oktober yang mengkhususkan kami untuk menghormati santa perawan Maria, wanita sahaja yang menjadi suri teladan keluarga-keluarga kami juga entah kenapa saban pagi Lidya dengan suaranya yang mampu menyentuh dasar hati menyanyikan lagu tentang Maria. Tapi pagi ini aku tak mendengar nyanyiannya karena samar-samar aku hanya mendengar tangisan paling pedih seperti elegi yang menusuk palung hati. Aku kaget dan coba menebak sumber suara itu. Baru saja ingin memfokuskan telinga aku mendengar bunyi sirene seperti pertanda bahwa ada kematian. Ini masih pagi dan sirene tak henti-henti meraung dari jauh dan aku gelisah sebab bagaimanapun juga sirene sedang menuju ke kampung kami dan tampak tetangga dekat rumahku sudah berhamburan keluar dari rumah menuju ke sumber tangisan yang memilukan itu. Kelelawar-kelewar juga keluar dari liang di sebelah selatan kampung dan terbang bebas diantara awan-awan sambil mengitari kampung kami, kelelawar selalu menjadi pertanda duka dan musibah menurut mitos yang sudah bertahun-tahun disemburkan dari mulut nenek moyang di kampung ini dan ternyata memang benar jika tiap kali sekawanan kelelawar keluar dari liang siang-siang hari atau pagi-pagi begini selalu saja ada musibah yang akan diderita oleh penghuni kampung. Entahlah apakah fenomena semacam ini masih disebut mitos? Aku tak tahu. Kelelawar seperti membawa pesan yang tak biasa dan membuat isi dada warga kampung tak tenang. Pernah aku melihat seekor kelelawar dengan jarak yang sangat dekat dan kau tahu aku baru sadar kalau muka kelelawar itu tidak bedanya seperti anjing piaraan kita atau seperti anjing liar yang menggigit Junaidi malam tadi. Ini juga satu alasan kenapa tetua adat di kampungku melarang warga untuk tidak memburu kelelawar malam-malam meski pisang dan pepaya milik warga kadang habis dimakan kelelawar-kelelawar itu. Akh, lupakan kelelawar yang mengerikan itu. Bukankah hidup adalah kehendak Tuhan untuk menentukan bukan binatang sialan yang memberikan pertanda aneh bin ajaib.</p>
<p>“Junaidi….Junaidi…Junaidi meninggal!”</p>
<p>Aku kaget bukan kepalang ketika mendengar teriak dari Lidya tetanggaku yang cantik dan seksi itu. Tanpa memikirkan apa-apa aku langsung bergegas ke rumah Junaidi. Baru keluar dari rumah, aku dicegat oleh Lidya.</p>
<p>“kak, kata orang-orang Junaidi meninggal karena digigit binatang buas karena banyak bekas luka di sekujur tubuhnya lebih-lebih di kaki.”</p>
<p>“apa? binatang buas?”</p>
<p>Aku tak mau bertanya banyak sebab dalam kepalaku bayangan peristiwa malam tadi masih melekat sangat erat. Tanpa banyak bicara lagi aku dan Lidya melangkah ke rumah duka, rumah Junaidi, rumah teman kelas kami yang rajin berdoa dan tidak pernah percaya pada mitos atau takhayul yang menurutnya hanya sebagai dongeng kosong yang pantas diceritakan kakek pada  cucu sebelum malam mengatup mata dan tidur menjemput lelap. Langkahku yang sedikit berat karena hati sedang ditusuk panah rasa bersalah, yang pasti sakit sekali. Dalam perjalanan ke rumah Junaidi aku mengutuk diri sendiri. “kenapa malam tadi tidak keluar untuk membantu Junaidi? Andai aku keluar rumah pasti Junaidi tidak apa-apa.” Berontak hati nurani. Di rumah Junaidi sudah banyak orang yang berkumpul dan meratapi kepergian Junaidi yang masih muda sedang beberapa warga yang perempuan di luar rumah sibuk gosip tentang naas yang menimpah Junaidi dan aku bisa mendengar jelas bahwa beberapa kali mereka menyebut kata Anjing sambil menunjukkan raut muka yang ngeri, lagi-lagi perasaanku diliputi bersalah. Aku sempat masuk ke dalam rumah dan melihat Junaidi yang terbaring kaku, di tangannya yang katup dilingkari biji-biji Rosario sebagai simbol bahwa Bunda Maria akan setia menuntun perjalanannya menuju akhirat, dunia baru dan bahagia yang telah disiapkan Tuhan untuk umat-Nya. Sangat lama aku menatap wajah Junaidi sambil membayangkan kisah-kisah kecil kami sebagai teman sekolah juga teman sepermainan selama masa kanak-kanak. Tiba-tiba aku tak mampu membendung ada gerimis yang jatuh dari langit mataku dan untuk waktu yang lama aku menangis. Semakin banyak warga yang datang untuk ikut berdukacita bersama keluarga Junaidi, aku sendiri masih duduk diam beberapa langkah dari tempat Junaidi dibaringkan. Entah kenapa tiba-tiba ada yang tak biasa, aku melihat wajah Junaidi menjelma seperti anjing liar yang kutemui malam tadi, aku bingung juga bengong karena hampir saja aku berteriak histeris sebelum aku kembali menahan diri dan coba menguatkan hati kalau-kalau ini hanya semacam halusianasi atau karena efek kurang tidur semalam tetapi yang aku lihat tadi benar-benar nyata dan entah kenapa di balik dadaku denyut jantung yang berdetak tiap detik rasa-rasa semakin keras memukul dari dalam. Tak mau berlama-lama di sini, aku ingin pulang ke rumah meski ketika hendak pulang aku masih mendengar desas-desus dari warga yang berada di luar tentang Anjing liar yang sudah mencabik-cabik tubuh Junaidi padahal mereka tidak tahu apa-apa dengan kejadian yang menimpa Junaidi malam tadi. Dalam perjalanan pulang ke rumah aku memikul kesedihan dan rasa bersalah yang sangat, tiba di rumah semua rasa ini tumpah begitu saja dari pelupuk mata. Lagi dan lagi aku mengutuk dan membenci diri sendiri. “andai malam tadi aku keluar dari rumah dan membantu Junaidi!”.</p>
<p>***</p>
<p>Empat puluh hari setelah kematian Junaidi. Sore ini ketika adzan dari Mesjid yang terletak di sebelah timur ujung kampung  berkumandang, bersama warga kami berdoa Angelus, biasanya di rumah-rumah warga yang Katolik tiap kali mendengar suara adzan pukul enam petang mereka akan mengajak anak-anak dan keluarga untuk berdoa Angelus. Kami di rumah almarhum Junaidi petang ini juga berdoa dipimpin oleh ketua Komunitas Umat Basis. Kami di sini hidup bersamaan dengan umat Muslim tetapi kami saling menghargai dan menjunjung tinggi toleransi sehingga diantara kami tidak pernah bertikai. Malam sudah jatuh di atap-atap rumah ketika usai berdoa Angelus kami menyiapkan diri untuk perayaan ekaristi empat puluh malam kepergian almarhum Junaidi  yang dipimpin oleh seorang pastor yang buncit perutnya. Misa arwah di hari keempat puluh kematian Junaidi dihadiri banyak warga dari lingkungan juga stasi di paroki kami. Dalam kotbah pastor yang lumayan panjang, ia menjelaskan dasar biblis teologis tentang kehidupan baru setelah kematian juga memberi peneguhan kepada keluarga yang ditinggalkan. Acara empat puluh malam kepergian Junaidi malam itu diakhiri dengan makan bersama juga saling membagi cerita, yang paling banyak mengisahkan tentang kematian Junaidi yang dianggap keluarga dan warga sebagai misterius karena belum pasti menemukan  Anjing siapa yang berani merenggut nyawa Junaidi atau apa sebab Anjing yang menurut mereka liar itu berani-beraninya menghabiskan nyawa Junaidi padahal baru beberapa bulan lalu tenaga kesehatan dari kabupaten sudah menyuntik Anjing-anjing warga agar tidak menjadi rabies. Aku tidak berani bercerita tentang kejadian malam itu, takut dibilang tidak berperasaan atau dikata-katai oleh warga dan tetangga. Sebagaimana biasa di kampung kami setiap empat puluh malam biasanya keluarga akan berkumpul di rumah duka selain merayakan ekaristi juga menunggu jiwa almarhum yang meninggal untuk datang dan bercerita tentang akibat kematiannya juga untuk berpamitan dengan keluarga, ini sudah sering terjadi karena selain kepercayaan warga juga adat istiadat dari para leluhur yang mengharuskan keluarga berkumpul di malam tepat empat puluh hari kematian. Aku tak bisa menyembunyikan kecemasan dan bergegas pulang ke rumah untuk tidak mendengar cerita almarhum Junaidi bila tengah malam ia datang untuk pamitan. Di rumah, aku susah tidur karena kepalaku masih menyimpan ingatan tentang kejadian malam di mana Junaidi digigit anjing. Ini sudah tengah malam dan lolongan panjang Anjing warga di luar rumah menambah ketakutan. Aku sudah berusaha berdoa untuk keselamatan jiwa Junaidi hari-hari belakangan ini dan malam ini entah kenapa angin terasa bertiup kencang sedang jendelaku tiba-tiba terbuka, dengan persaan was-was aku hendak menutup endela dan di luar aku bisa melihat dengan jelas wajah Junaidi yang menjelma Anjing liar. Setelah melihat itu segalanya menjadi gelap.</p>
<p>“malam itu kenapa kau tidak bangun dan membantuku? Kamu tidak salah, akulah yang harus menanggung semua ini. Kau tahu, malam itu aku tidak berdoa Rosario bersama warga karena aku menuju ke liang kelelawar dan membakar beberapa ekor kelelawar. Aku melihat kau mengintipku dari jendela ketika kau melihat anjing menyerangku. Oh ia, itu bukan anjing milik om Herman tetapi itu anjing jadi-jadian yang mengejarku dari liang kelelawar. Selamat tinggal kawan, doakan aku agar aku bisa tiba di surga dan ingat jangan main-main dengan Kelelawar misterius yang memabawa tanda-tanda musibah, atau kau mau menjadi korban bila mengganggu liang mereka.”</p>
<p>Ini sudah dinihari. Saat kembali mengingat-ingat mimpi bertemu Junaidi, aku kaget sekali ketika di luar rumah banyak warga membawa parang, obor juga benda-benda runcing sambil beteriak-teriak “bakar liang kelelawar…bakar liang Kelelawar…bunuh Anjing liar sialan itu. Bunuh…bunuh…bunuh!!”</p>
<p><em>Wisma St. Rafael-Ledalero, 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<hr />
<p><strong>RIKARD DIKU:</strong> <em>Mahasiswa Filsafat di STFK Ledalero-Maumere-NTT. Lahir pada 7 Februari 1999. Ia pecinta sastra, beberapa cerpen dan puisinya tersiar di beberapa Koran juga media daring dan dibukukan dalam beberapa buku Antologi).</em></p>
<hr />
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/22/anjing-liar/">Anjing Liar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2020/09/22/anjing-liar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi &#8211; Puisi Faris Al-Faisal: Sepohon Rumah</title>
		<link>https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-faris-al-faisal-sepohon-rumah/</link>
					<comments>https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-faris-al-faisal-sepohon-rumah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2020 03:27:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=772</guid>

					<description><![CDATA[<p>sepohon rumah burung-burung pun mencari sepohon rumah kuat di batang, lentur di ranting penginapan dengan lampion bintang dan bulan hening gemersik daunan memeluk harum rimba dan getah kayu &#160; maka biarkanlah, siul jantan menyapa betina akar belukar menghujam ke bumi pucuk-pucuk muda meremajakan mata hari pun diayun tangan angin keindahan belantara raya dan damai &#160; [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-faris-al-faisal-sepohon-rumah/">Puisi &#8211; Puisi Faris Al-Faisal: Sepohon Rumah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>sepohon rumah</strong></p>
<p>burung-burung pun mencari sepohon rumah</p>
<p>kuat di batang, lentur di ranting</p>
<p>penginapan dengan lampion bintang dan bulan</p>
<p>hening gemersik daunan</p>
<p>memeluk harum rimba dan getah kayu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>maka biarkanlah, siul jantan menyapa betina</p>
<p>akar belukar menghujam ke bumi</p>
<p>pucuk-pucuk muda meremajakan mata</p>
<p>hari pun diayun tangan angin</p>
<p>keindahan belantara raya dan damai</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sungguh harga yang mahal, sebuah kehidupan</p>
<p>sebuah cita-cita, suatu bangsa</p>
<p><em>Indramayu, 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>pada malam</strong></p>
<p>jabat angin pada malam, tangan menempuh</p>
<p>ingin dan dingin, meraba-raba bagai tongkat</p>
<p>tunanetra, semesta tanpa cahaya dan warna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sunyi melangkah ke tingkat purna, apatah lagi</p>
<p>di dalam jiwa, telah pergi pelangi sorgaloka,</p>
<p>pupus ia mencengkeram tulang-tulang dada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>di kamar istirah tubuh dan pikiran rebah, cinta</p>
<p>telah mengambil banyak dari waktuku, sedang</p>
<p>usia mengisyaratkan sisa-sisa dan sia-sia.</p>
<p><em>Indramayu, 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>waktu remaja </strong></p>
<p>buah-buah pun mengkal memasak rasa</p>
<p>semasa waktu remaja</p>
<p>melukis rona pada pesona</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>keranjang-keranjang bergetar</p>
<p>dalam senyum</p>
<p>memetik larik pertama lagu cinta</p>
<p><em>Indramayu, 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>jalan bahagia</strong></p>
<p>sekarang kita melihat cahaya</p>
<p>yang jauh</p>
<p>kerlip lampu, menempuh</p>
<p>biar pun kening berembun peluh</p>
<p>kuntum bunga kemilau</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sesuatu akan jadi malaikat penolong</p>
<p>di antara keping batu</p>
<p>batang liana yang mengulur tangan</p>
<p>sebuah jembatan</p>
<p>nasib dan kebaikan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>berjalanlah, terus berjalan</p>
<p>ke mana pergi itulah jalan bahagia</p>
<p><em>Indramayu, 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>jantung menunggu</strong></p>
<p>kita tidak sedang diam bukan?</p>
<p>sebab jantung menunggu</p>
<p>musim menumbuhkan pohonan buah</p>
<p>rasa manis bergelantungan</p>
<p>tangkai-tangkai bahagia</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>bukan kemarau ini</p>
<p>lantas suara burung merbah parau</p>
<p>angin hendak melintas</p>
<p>menjemput hujan yang berbunga-bunga</p>
<p>dan putik berdandan cantik</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>jadi bebaskan pikiran</p>
<p>menegaskan mimpi-mimpi bicara keajaiban</p>
<p><em>Indramayu, 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<hr />
<p><strong>FARIS AL-FAISAL: </strong> <em>lahir dan berdikari d(ar)i Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Puisinya mendapat Hadiah Penghargaan dalam Sayembara Menulis Puisi Islam ASEAN Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ke-9 Tahun 2020 di Membakut, Sabah, Malaysia, Juara 1 dan mendapat Piala bergilir ‘Lomba Cipta Puisi Anugerah RD. Dewi Sartika (2019), mendapatkan juga Anugerah “Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI 2019 dalam Perayaan 7 Tahun Hari Puisi Indonesia Yayasan Hari Puisi, dan pernah Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori Umum Tingkat Asia Tenggara Pekan Bahasa dan Sastra 2018 Universitas Sebelas Maret. Tersiar pula puisi-puisinya di surat kabar Indonesia dan Malaysia. Buku puisi keduanya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian” penerbit Rumah Pustaka (2018). Email <a href="mailto:ffarisalffaisal@gmail.com">ffarisalffaisal@gmail.com</a>, Facebook <a href="http://www.facebook.com/faris.alfaisal.3">www.facebook.com/faris.alfaisal.3</a>, Twitter @lfaisal_faris,  IG @ffarisalffaisal, dan SMS/WA 0811-2007-934</em></p>
<hr />
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-faris-al-faisal-sepohon-rumah/">Puisi &#8211; Puisi Faris Al-Faisal: Sepohon Rumah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-faris-al-faisal-sepohon-rumah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi-Puisi Idul Saputra: Lamunan Pria Muda</title>
		<link>https://lebur.id/2020/09/15/puisi-puisi-idul-saputra-lamunan-pria-muda/</link>
					<comments>https://lebur.id/2020/09/15/puisi-puisi-idul-saputra-lamunan-pria-muda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2020 04:16:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=763</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lamunan Pria Muda Tubuh lelahnya disandarkan dibawah pohon mangga, Setelah mencukur bulu punggung pematang sawah, Nafas memburu mulai mereda perlahan Sambil sesekali menyeka keringat yang muncul di keningnya.. &#160; Angin sejuk menerbangkan pikirannya Terbang bersama lamunan akan jadi apa dirinya di masa depan. Akankah tetap menjemur punggung, menantang matahari dan berkawanan dengan hujan Akankah berteduh [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/15/puisi-puisi-idul-saputra-lamunan-pria-muda/">Puisi-Puisi Idul Saputra: Lamunan Pria Muda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lamunan Pria Muda</strong></p>
<p>Tubuh lelahnya disandarkan dibawah pohon mangga,</p>
<p>Setelah mencukur bulu punggung pematang sawah,</p>
<p>Nafas memburu mulai mereda perlahan</p>
<p>Sambil sesekali menyeka keringat yang muncul di keningnya..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Angin sejuk menerbangkan pikirannya</p>
<p>Terbang bersama lamunan akan jadi apa dirinya di masa depan.</p>
<p>Akankah tetap menjemur punggung, menantang matahari dan berkawanan dengan hujan</p>
<p>Akankah berteduh di payung gedung, bercengkrama dengan deretan dokumen</p>
<p>Ataukah beradik dengan pena, berkakak dengan buku, bercengkrama dengan tulisan..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tiba tiba lamunannya pecah memandang awan yang menghitam..</p>
<p>Disusul rintik air yang mulai jatuh..</p>
<p>Dititipkan masa depannya pada Ilahi yang mengetahui segala sesuatu..</p>
<p>Berusaha dan berdoa tetap ia tekuni..</p>
<p><em>Maninjau, 13 September 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Padi dan Baris Berbaris</strong></p>
<p>Hamparan padi yang menghijau mengisi ruang pandangan..</p>
<p>Berbaris rapi layaknya pasukan baris berbaris..</p>
<p>Lancang kanan, lancang depan mengatur barisan..</p>
<p>Melambangkan kokohnya pasukan bila diikat kekompokan dan dibungkus kesolidan..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Andai barisan itu barisan pemuda Indonesia</p>
<p>Barisan yang siap mengudara dan mengkiprahkan sang garuda</p>
<p>Barisan penyokong kemudi kapal di lautan ombak penghadang..</p>
<p>Sungguh, barisan itu barisan yang dirindukan..</p>
<p><em>Sorik, 13 September 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kelahiran Puisi</strong></p>
<p>Dia mengandung di perjalanan pulang..</p>
<p>Pikirannya didatangi saripati kata..</p>
<p>Dihadiri juga sel ovum kalimat..</p>
<p>Mereka menyatu di kepala bukan di perut..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kata dan kalimat dibungkus bait bait..</p>
<p>Pikirannya muntah muntah, mungkin efek pembuahan..</p>
<p>Masa kandungan semakin tua..</p>
<p>Huruf-huruf sudah mulai menendang ingin keluar..</p>
<p>Dia menyendiri, menyepi mencari tempat yang nyaman untuk prosesi kelahiran..</p>
<p>Ceess, bayi puisi lahir di kertas buram..</p>
<p><em>Sorik, 13 September 2020</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Padi menguningkan Harapan</strong></p>
<p>Harapan petani kini semakin dekat,</p>
<p>Dekat pada masa panen yang ditunggu</p>
<p>Bulir kuning matang mencerahkan mata petani, yang semakin sayup di cicipi usia..</p>
<p>Harapan menggantung pada tiap tangkai bulir, merunduk mengisyaratkan kebesaran hati petani,</p>
<p>Menari, melambaikan daun daun masak kekuningan</p>
<p>Digoyangkan angin sepoi di sore itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Harapan sudah ditulis rapi..</p>
<p>Menyusun rancangan anggaran dan belanja rumah keluarga..</p>
<p>Merancang hutang mana yang segera dilunasi, kemana hasil panen akan dialokasikan</p>
<p>Semua sudah ditulis dalam pikiran petani itu..</p>
<p><em>Maninjau, 13 September 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<hr />
<p><strong>IDUL SAPUTRA</strong>:  <em>lahir di Sorik, 23 Januari 2000, tinggal di Pasaman, Sumatera Barat. Mahasiswa Ekonomi Syariah IAIN Bukittinngi. Akun Fb Idul Saputra, Ig idoel Sapoetra23</em></p>
<hr />
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/15/puisi-puisi-idul-saputra-lamunan-pria-muda/">Puisi-Puisi Idul Saputra: Lamunan Pria Muda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2020/09/15/puisi-puisi-idul-saputra-lamunan-pria-muda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
