<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PUISI Arsip - Lebur.id</title>
	<atom:link href="https://lebur.id/category/literasi/sastra/puisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lebur.id/category/literasi/sastra/puisi/</link>
	<description>Asyik dan Mendidik</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Oct 2024 02:39:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://lebur.id/wp-content/uploads/2020/05/cropped-Lebur.id3_-32x32.png</url>
	<title>PUISI Arsip - Lebur.id</title>
	<link>https://lebur.id/category/literasi/sastra/puisi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Puisi-Puisi Irsyad Rasyid Muhammad</title>
		<link>https://lebur.id/2024/10/15/puisi-puisi-irsyad-rasyid-muhammad/</link>
					<comments>https://lebur.id/2024/10/15/puisi-puisi-irsyad-rasyid-muhammad/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Oct 2024 08:47:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Romantis]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi-Puisi Irsyad Rasyid Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=3883</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bulan Kasih Sayang Tanggal 14 pukul sembilan Di sebuah malam Pada bulan kasih sayang Malam mati ditikam sepi Tak ada suara musik Simponi indah dari sayap-sayap jangkrik Hanya satu bulan Bercahaya dalam malam Bermandikan bintang-bintang Setia terlihat menemani Sedangkan bulan ini Kita belum saling jalan lagi Ah, aku kangen kamu Tapi kamu sibuk dengan alasan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2024/10/15/puisi-puisi-irsyad-rasyid-muhammad/">Puisi-Puisi Irsyad Rasyid Muhammad</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bulan Kasih Sayang</strong></p>
<p>Tanggal 14 pukul sembilan<br />
Di sebuah malam<br />
Pada bulan kasih sayang</p>
<p>Malam mati ditikam sepi<br />
Tak ada suara musik<br />
Simponi indah dari sayap-sayap jangkrik</p>
<p>Hanya satu bulan<br />
Bercahaya dalam malam<br />
Bermandikan bintang-bintang<br />
Setia terlihat menemani<br />
Sedangkan bulan ini<br />
Kita belum saling jalan lagi</p>
<p>Ah, aku kangen kamu<br />
Tapi kamu sibuk dengan alasan tetek bengek<br />
Rinduku semakin menumpuk di saku<br />
Sebentar lagi merobek-robek baju</p>
<p><strong>Malam- Malam Sakral</strong></p>
<p>Malam-malam yang ingin aku lalui bersamamu<br />
Adalah malam yang beratap sunyi<br />
Kata-kata lenyap ditelan letih<br />
Bau tubuhmu menjadi menu malam paling gurih</p>
<p>Tak berapa lama lampu dan api padam<br />
Hanya puisi yang masih terjaga<br />
Memulangkan senyum dan peluh<br />
Bersembunyi di balik pintu</p>
<p>Lalu, engkau siapkan pagelaran sakral<br />
Menggelar upacara di ranjang<br />
Memainkan peran dan lelakon<br />
Membuat perutmu sebentar lagi bulat seperti melon</p>
<p><strong>Nasib Kata</strong></p>
<p>Hampir setiap malam<br />
Aku menuliskanmu puisi<br />
Dan kau bahagia<br />
Dia telah menjadi milikmu yang abadi</p>
<p>Kau bertanya,<br />
Dengan milyaran deret kata<br />
Bagaimana nasib kata yang melimpah ruah di semesta<br />
Bila tak menjadi bagian puisi pada akhirnya?</p>
<p>Ku jawab,<br />
Sama sekali tidak berarti bagiku puisi di semesta<br />
Bila tak ada kau di dalamnya</p>
<p><strong>Secangkir Kopi</strong></p>
<p>Apa boleh kutanyakan padamu<br />
Apa ada yang lebih merdu<br />
Dari secangkir kopi di malam hari?</p>
<p>Apa boleh kutanyakan padamu<br />
Apa ada yang lebih menderu<br />
Dari secangkir kopi di malam hari?</p>
<p>Disingkarkannya kantuk<br />
Disapunya letih hari buruk<br />
Padahal ibuku bilang tidurmu nikmat<br />
Bila kantuk kau peluk di dalam selimut<br />
Lalu ngorokmu membuat jangkrik di pelataran rumah menggerutu kecut</p>
<p>Maka, kubuat kopiku malam ini<br />
Sengaja kuairi dengan rindu<br />
Yang sementara sebulan ini<br />
Menyiksa dengan apa saja berbau tentangmu</p>
<p>Sambil kubaca kabar dari surat kabar<br />
Ada banyak kasus pembunuhan<br />
Sementara yang lainnya banyak orang mati<br />
Karena ditikam kerinduan</p>
<p>Tak lupa kupenuhi gula setengah<br />
Setengah lagi sudah dipenuhi manis wajahmu</p>
<p>Seketika kopi sudah jadi<br />
Kuaduk perlahan<br />
Kuseduh senikmat-nikmatnya<br />
Namun, tak jua nikmat<br />
Mungkin lidahku mati rasa<br />
Atau mungkin saja<br />
Rasa-rasanya rindu<br />
Yang perlahan mematikanku</p>
<p>Apa boleh kutanyakan padamu<br />
Apa ada yang lebih syahdu<br />
Dari secangkir kopi di malam hari?</p>
<p>Kopiku yang dingin<br />
Menjawab dengan dingin<br />
Ada, yaitu</p>
<p>“Rindu yang mengoyak-oyak kesadaranmu”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***</p>
<p><strong>Irsyad Rasyid Muhammad</strong> adalah pengajar sains yang senang mengukir puisi sebagai salah satu alternatif mengendapkan kenangan-kenangannya. Kumpulan Puisi-nya telah termuat dalam buku Rahasia-rahasia Lakon Kahyangan (2024). Bisa dihubungi pada instagram irsyad_amanda.</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2024/10/15/puisi-puisi-irsyad-rasyid-muhammad/">Puisi-Puisi Irsyad Rasyid Muhammad</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2024/10/15/puisi-puisi-irsyad-rasyid-muhammad/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi-Puisi Okki Siolemba</title>
		<link>https://lebur.id/2024/10/04/puisi-puisi-okki-siolemba/</link>
					<comments>https://lebur.id/2024/10/04/puisi-puisi-okki-siolemba/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Oct 2024 16:42:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=3831</guid>

					<description><![CDATA[<p>KAMUS LOBUS FRONTAL Jinjing kepala lepas dari fantasi dari seorang filsuf harian nasabah atensi Sudahlah muak kukatakan kenyang makan saja tuturmu bujang! selaput otak pecah jiwaku berdarah Ingin kuatur dunia imbasnya ditelanjangi hingga kekanak-kanakan Pengampu kode etik kaum elit libas sekelompok pengubah dunia gabungan dua eksem atau lebih Semua idiom semata Kamus spiritual formula vertikal [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2024/10/04/puisi-puisi-okki-siolemba/">Puisi-Puisi Okki Siolemba</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KAMUS LOBUS FRONTAL</strong></p>
<p>Jinjing kepala lepas dari fantasi</p>
<p>dari seorang filsuf harian nasabah atensi</p>
<p>Sudahlah muak kukatakan kenyang</p>
<p>makan saja tuturmu bujang!</p>
<p>selaput otak pecah</p>
<p>jiwaku berdarah</p>
<p>Ingin kuatur dunia</p>
<p>imbasnya ditelanjangi hingga kekanak-kanakan</p>
<p>Pengampu kode etik kaum elit</p>
<p>libas sekelompok pengubah dunia</p>
<p>gabungan dua eksem atau lebih</p>
<p>Semua idiom semata</p>
<p>Kamus spiritual</p>
<p>formula vertikal</p>
<p>evakuasi kami!</p>
<p>kami tak mengerti bahasa binatang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>LANGIT-LANGIT NIBIRU</strong></p>
<p>Lorong waktu menjadi gagu</p>
<p>celah detik menjelma resah</p>
<p>Ketika tutur melampaui sendu</p>
<p>kiasan mendesah</p>
<p>Basah,</p>
<p>ruangan padat cemburu</p>
<p>kutemukan nadi meraba siluet</p>
<p>abu-abu bertanya siapakah sebab</p>
<p>Tanyakan hangat di kursi bekas kududuk</p>
<p>Tanyakan dingin di pelataran angkasa kuberdiri</p>
<p>Hampa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>RAYUAN SETENGAH KOPLING</strong></p>
<p><em>“Diam itu emas, </em></p>
<p><em>emas itu diam,</em></p>
<p><em>Diam bukan berarti emas,</em></p>
<p><em>emas bukan berarti diam”</em></p>
<p>Nomor handphone kamu berapa?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>TERPAKSA TUMBUH</strong></p>
<p>Kulihat senyum tak lagi berseri</p>
<p>Kulihat damai tak lagi bersemi</p>
<p>Tanah pelarian, memaksa bahagia tumbuh</p>
<p>dibiarkan terus berdusta</p>
<p>berhamburan tak bermakna</p>
<p>lorong-lorong waktu</p>
<p>mendung tiba</p>
<p>gelap, pekat menusuk hati</p>
<p>hujan jatuh</p>
<p>salamkan bimbang</p>
<p>berbisik,</p>
<p>Kenangan basahi pipi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>KISAH DOA YANG </strong></p>
<p><strong>MERINDUKAN PENYESALAN</strong></p>
<p>Gunung-gunung menjulang, pundak terbenam</p>
<p>gejolak ajal meletup-letup menagih waktu</p>
<p>Jiwa resah dibuai putus asa</p>
<p>terombang-ambing kecemburuan hidup</p>
<p>keindahan semakin angkuh</p>
<p>sebab-sebab air mata bertetesan</p>
<p>“<em>jemputlah nurani</em>!”</p>
<p>&#8211; bisikkan cahaya menyelinap kalbu</p>
<p>“<em>oh, doa! </em></p>
<p><em>terima kasih untuk kesekian kali</em>”</p>
<p>&#8211; menengadah angkasa.</p>
<p>___________________________________________________________</p>
<p><strong>Okki Siolemba</strong> adalah seorang mahasiswa sekaligus penulis buku puisi<em><strong> “Rahasia Sunyi” (2022) </strong></em>yang kesehariannya menghabiskan waktu untuk belajar menemukan inovasi dan kreativitas baru. Biasanya penulis mendengarkan banyak lagu dari berbagai genre musik, membaca banyak puisi dari banyak penyair di seluruh dunia serta mengulik fenomena kisah asmara orang-orang untuk dijadikan inspirasi lalu dituangkan ke dalam sebuah karya seni sastra berbentuk puisi. Berbeda dengan latar belakang penulis yang berasal dari keluarga seni musik, ia mencoba menerobos batasan-batasan bakat yang tidak dimilikinya.</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2024/10/04/puisi-puisi-okki-siolemba/">Puisi-Puisi Okki Siolemba</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2024/10/04/puisi-puisi-okki-siolemba/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi Ach. Jazuli: Republik Anjay</title>
		<link>https://lebur.id/2020/10/07/puisi-ach-jazuli-republik-anjay/</link>
					<comments>https://lebur.id/2020/10/07/puisi-ach-jazuli-republik-anjay/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2020 08:23:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=803</guid>

					<description><![CDATA[<p>Republik Anjay kepada seluruh penghuni wilayah ini silakan untuk segera menyelesaikan rasa dengki terhadap sesama jika tidak bisa, paling tidak hindari tindakan kontak fisik jangan sampai presiden menghukum kita yang berbuat mesum segera dirikan ruangan-ruangan gelap boleh di belakang gedung, di sebelah pasar atau di rumah petinggi sekalian jika tidak mau, setidaknya tidak telanjang di [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/10/07/puisi-ach-jazuli-republik-anjay/">Puisi Ach. Jazuli: Republik Anjay</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Republik Anjay</strong></p>
<p>kepada seluruh penghuni wilayah ini<br />
silakan untuk segera menyelesaikan rasa dengki terhadap sesama<br />
jika tidak bisa, paling tidak hindari tindakan kontak fisik<br />
jangan sampai presiden menghukum kita<br />
yang berbuat mesum segera dirikan ruangan-ruangan gelap<br />
boleh di belakang gedung, di sebelah pasar atau di rumah petinggi sekalian<br />
jika tidak mau, setidaknya tidak telanjang di tengah jalan<br />
jangan sampai presiden mengutuk kita<br />
pun, yang sering judi, merampas dan maling uang rakyat<br />
segera bubarkan keamanan, vakumkan KPK, kuasai revisian undang-undang<br />
jika tidak mungkin, paling tidak kalian bisa menyuap dan mengancamnya<br />
jangan sampai presiden mendakwa kita</p>
<p>sudah menjadi rahasia umum<br />
uang dan kuasa tetap dipercaya sebagai kekuatan<br />
mampu mengalihkan isu-isu besar pada yang tidak penting,<br />
bisa membubarkan pertahanan dengan pura-pura lumpuh,<br />
bisa membuat kebijakan baru diatas penindasan yang sedang merajalela,</p>
<p>yang miskin bisa apa, buat makan-pun tak ada<br />
bicara kuasa, setiap hari hak-haknya semakin di peras<br />
rumahnya di gusur, tanahnya diangkut, hutannya di gunduli, bukit-bukitnya di gali<br />
ujung-ujungnya tetap si miskin yang kalah jika melakukan perlawanan</p>
<p>hidup sudah bak dalam hutan,<br />
peraturan dibuat oleh kuat untuk menjadikannya semakin kuat<br />
yang lemah jadi sasaran panah dibuatnya semakin melemah<br />
seakan yang boleh hidup berkeliaran hanya singa, macan, buaya elang dan kerabatnya</p>
<p>inilah republik anjay<br />
republik yang telah lupa menertawakan bangsanya</p>
<p><em>Tambaksari, 03 September 2020</em></p>
<hr />
<p><strong>ACH. JAZULI:</strong>   lahir di Sumenep pada tanggal 22 April 1999 dari pasangan suami-istri; Ningwar dan Masriya. Pendidikannya ditempuh di berbagai tempat. Pendidikan dasarnya diselesaikan di SDN Tambaksari 3, SLTP dan SLTA-nya di tempuh di lembaga pondok pesantren, yaitu di LPI Darul Ulum Prongpong, kemudian perguruan tingginya konsen di program Studi Tadris Bahasa Indonesia fakultas tarbiyah IAIN Madura.</p>
<hr />
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/10/07/puisi-ach-jazuli-republik-anjay/">Puisi Ach. Jazuli: Republik Anjay</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2020/10/07/puisi-ach-jazuli-republik-anjay/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi-Puisi Joe Hasan: Aku Rindu Lapar</title>
		<link>https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-joe-hasan-aku-rindu-lapar/</link>
					<comments>https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-joe-hasan-aku-rindu-lapar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2020 03:51:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=778</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku Rindu Lapar malam ini aku rindu lapar suara-suara emak dari atas meja menggelinjang masuk dalam kamar tanpa permisi. lalu. “sudah makan?” “mari makan.” kubilang nanti saja. laparku belum datang &#160; malam ini aku rindu lapar bayangannya berenang mengikutiku keriputnya hilang terhapus oleh imajinasi dosa bertumpuk-tumpuk dalam kamar sejak bertemu api dalam nafsu mungkin ia [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-joe-hasan-aku-rindu-lapar/">Puisi-Puisi Joe Hasan: Aku Rindu Lapar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Aku Rindu Lapar </strong></p>
<p>malam ini aku rindu lapar</p>
<p>suara-suara emak dari atas meja</p>
<p>menggelinjang masuk dalam kamar</p>
<p>tanpa permisi. lalu.</p>
<p>“sudah makan?”</p>
<p>“mari makan.”</p>
<p>kubilang nanti saja. laparku belum datang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>malam ini aku rindu lapar</p>
<p>bayangannya berenang mengikutiku</p>
<p>keriputnya hilang terhapus oleh imajinasi</p>
<p>dosa bertumpuk-tumpuk dalam kamar</p>
<p>sejak bertemu api dalam nafsu</p>
<p>mungkin ia sedang merindu juga</p>
<p>ah, senyumnya ada dalam buku</p>
<p>ada dalam dada</p>
<p>perlukah ku belah?</p>
<p>seperti ikaln-iklan di tivi</p>
<p>yang terlalu jauh dari akal sehat</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>suara manis dari mulutmu</p>
<p>oh, malaikat</p>
<p>buatkan aku sebantal guling</p>
<p>aku ingin tidur sementara</p>
<p>menatapmu dalam mimpi</p>
<p>agar tak lagi tua</p>
<p><em> (Surabaya, 2018)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Antara Jayapura dan Sunda</strong></p>
<p>antara jayapura dan sunda</p>
<p>sulawesi bersedia menjadi jembatan</p>
<p>tak perlu takut kehilangan</p>
<p>tak perlu risau karena tak melihat</p>
<p>bukankah cinta sejati tak mengenal jarak</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>tentu kau ingat,</p>
<p>sebelah bola mataku kau rampas</p>
<p>untuk kau ganti dengan bola matamu</p>
<p>dan kita bisa saling memandang</p>
<p>tertawa saat bahagia</p>
<p>menangis saat sedih</p>
<p>lalu berpelukan ketika mimpi benar-benar mengundang malam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ya, malam telah merambat</p>
<p>dan aku ingin naik ke bulan</p>
<p>menari bersamamu, meski tanpa busana</p>
<p>agar sempurna sayap kita</p>
<p>antara jayapura dan sunda</p>
<p>hanyalah berjarak kening dan mata</p>
<p><em>(Bau-Bau,  2017)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Benar Aku Telah Membohongimu</strong></p>
<p>aku benar telah membohongimu</p>
<p>saat malam tenggelam tepat diwajahmu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ucapmu yang ku ingat setahun lalu</p>
<p>memberi warna pada langkah pemuda</p>
<p>seperti rotan yang baru kuanyam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>aku benar telah membohongimu</p>
<p>saat malam tenggelam tepat  di wajahmu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sesaat lagi aku akan berdiri diujung kuku</p>
<p>bersama bidadari-bidadari tak bernama</p>
<p>semisal esok aku tak ada,</p>
<p>benar saja aku telah membohongimu</p>
<p><em>(Bau-Bau,  2017)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Gagal Wawancara</strong></p>
<p>aku tak begitu pandai berdamai dengan hujan</p>
<p>hari ini ia bernyanyi tak berhenti</p>
<p>lalu aku gagal wawancara</p>
<p>aku mencari rumahnya</p>
<p>namun ia belum setengah jalan</p>
<p>kau marah tanpa arah</p>
<p>aku masih mencari asap rokok di atas meja</p>
<p>bau dan rasa kopi yang masih mengingat panci di rumah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>aku gagal wawancara</p>
<p>kau gagal dapat uang banyak</p>
<p>maaf telah membuatmu mondar-mandir</p>
<p>gelisah bersarang dalam kita</p>
<p>dan kita menahannya sekian lama</p>
<p>kulihat kau mulai takut padaku</p>
<p>tenang saja,</p>
<p>meski aku penjahat, aku masih bisa memilih</p>
<p>korban</p>
<p>tidak seperti kau yang kulitpun tak punya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ah, matamu hilang mencari suara hujan</p>
<p>matahari masih malu-malu</p>
<p>kekosongan memegang piala atas kemenangannya</p>
<p>baiklah. ini bukan giliran kita</p>
<p>hujan terlalu lihai mengusir</p>
<p>padahal ini istana milik bersama</p>
<p>lain kali jangan lupa bawa amplop</p>
<p>untuk bungkus hujan</p>
<p>sebelum wawancara selesai</p>
<p><em>(Surabaya,  2018)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kapan Tahun Kita</strong></p>
<p>terakhir tahun ini</p>
<p>apa yang sudah kita siapkan untuk tahun besok?</p>
<p>pernahkah kita ceria untuk menjemput kematian kita sendiri?</p>
<p>lihatlah tanah-tanah yang sekarang kita injak</p>
<p>sesungguhnya ia merindukan tubuhku, tubuh molekmu</p>
<p>cacing-cacing tanah disana sedang menunggu</p>
<p>berpikirlah sejenak</p>
<p>maka berziaralah</p>
<p>agar kelak kita di ziarahi</p>
<p>entah kapan</p>
<p>mungkin setelah tahun ini</p>
<p><em>(Bau-Bau,  2017)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<hr />
<p><strong>JOE HASAN:</strong> l<em>ahir di Ambon pada 22 Februari. Kini Berdomisili di Surabaya, Jawa Timur.  Pecinta Olahraga Taekwondo. Beberapa puisinya pernah dimuat di media lokal dan nasional</em></p>
<hr />
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-joe-hasan-aku-rindu-lapar/">Puisi-Puisi Joe Hasan: Aku Rindu Lapar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-joe-hasan-aku-rindu-lapar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi &#8211; Puisi Faris Al-Faisal: Sepohon Rumah</title>
		<link>https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-faris-al-faisal-sepohon-rumah/</link>
					<comments>https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-faris-al-faisal-sepohon-rumah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2020 03:27:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=772</guid>

					<description><![CDATA[<p>sepohon rumah burung-burung pun mencari sepohon rumah kuat di batang, lentur di ranting penginapan dengan lampion bintang dan bulan hening gemersik daunan memeluk harum rimba dan getah kayu &#160; maka biarkanlah, siul jantan menyapa betina akar belukar menghujam ke bumi pucuk-pucuk muda meremajakan mata hari pun diayun tangan angin keindahan belantara raya dan damai &#160; [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-faris-al-faisal-sepohon-rumah/">Puisi &#8211; Puisi Faris Al-Faisal: Sepohon Rumah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>sepohon rumah</strong></p>
<p>burung-burung pun mencari sepohon rumah</p>
<p>kuat di batang, lentur di ranting</p>
<p>penginapan dengan lampion bintang dan bulan</p>
<p>hening gemersik daunan</p>
<p>memeluk harum rimba dan getah kayu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>maka biarkanlah, siul jantan menyapa betina</p>
<p>akar belukar menghujam ke bumi</p>
<p>pucuk-pucuk muda meremajakan mata</p>
<p>hari pun diayun tangan angin</p>
<p>keindahan belantara raya dan damai</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sungguh harga yang mahal, sebuah kehidupan</p>
<p>sebuah cita-cita, suatu bangsa</p>
<p><em>Indramayu, 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>pada malam</strong></p>
<p>jabat angin pada malam, tangan menempuh</p>
<p>ingin dan dingin, meraba-raba bagai tongkat</p>
<p>tunanetra, semesta tanpa cahaya dan warna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sunyi melangkah ke tingkat purna, apatah lagi</p>
<p>di dalam jiwa, telah pergi pelangi sorgaloka,</p>
<p>pupus ia mencengkeram tulang-tulang dada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>di kamar istirah tubuh dan pikiran rebah, cinta</p>
<p>telah mengambil banyak dari waktuku, sedang</p>
<p>usia mengisyaratkan sisa-sisa dan sia-sia.</p>
<p><em>Indramayu, 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>waktu remaja </strong></p>
<p>buah-buah pun mengkal memasak rasa</p>
<p>semasa waktu remaja</p>
<p>melukis rona pada pesona</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>keranjang-keranjang bergetar</p>
<p>dalam senyum</p>
<p>memetik larik pertama lagu cinta</p>
<p><em>Indramayu, 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>jalan bahagia</strong></p>
<p>sekarang kita melihat cahaya</p>
<p>yang jauh</p>
<p>kerlip lampu, menempuh</p>
<p>biar pun kening berembun peluh</p>
<p>kuntum bunga kemilau</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sesuatu akan jadi malaikat penolong</p>
<p>di antara keping batu</p>
<p>batang liana yang mengulur tangan</p>
<p>sebuah jembatan</p>
<p>nasib dan kebaikan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>berjalanlah, terus berjalan</p>
<p>ke mana pergi itulah jalan bahagia</p>
<p><em>Indramayu, 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>jantung menunggu</strong></p>
<p>kita tidak sedang diam bukan?</p>
<p>sebab jantung menunggu</p>
<p>musim menumbuhkan pohonan buah</p>
<p>rasa manis bergelantungan</p>
<p>tangkai-tangkai bahagia</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>bukan kemarau ini</p>
<p>lantas suara burung merbah parau</p>
<p>angin hendak melintas</p>
<p>menjemput hujan yang berbunga-bunga</p>
<p>dan putik berdandan cantik</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>jadi bebaskan pikiran</p>
<p>menegaskan mimpi-mimpi bicara keajaiban</p>
<p><em>Indramayu, 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<hr />
<p><strong>FARIS AL-FAISAL: </strong> <em>lahir dan berdikari d(ar)i Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Puisinya mendapat Hadiah Penghargaan dalam Sayembara Menulis Puisi Islam ASEAN Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ke-9 Tahun 2020 di Membakut, Sabah, Malaysia, Juara 1 dan mendapat Piala bergilir ‘Lomba Cipta Puisi Anugerah RD. Dewi Sartika (2019), mendapatkan juga Anugerah “Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI 2019 dalam Perayaan 7 Tahun Hari Puisi Indonesia Yayasan Hari Puisi, dan pernah Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori Umum Tingkat Asia Tenggara Pekan Bahasa dan Sastra 2018 Universitas Sebelas Maret. Tersiar pula puisi-puisinya di surat kabar Indonesia dan Malaysia. Buku puisi keduanya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian” penerbit Rumah Pustaka (2018). Email <a href="mailto:ffarisalffaisal@gmail.com">ffarisalffaisal@gmail.com</a>, Facebook <a href="http://www.facebook.com/faris.alfaisal.3">www.facebook.com/faris.alfaisal.3</a>, Twitter @lfaisal_faris,  IG @ffarisalffaisal, dan SMS/WA 0811-2007-934</em></p>
<hr />
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-faris-al-faisal-sepohon-rumah/">Puisi &#8211; Puisi Faris Al-Faisal: Sepohon Rumah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2020/09/22/puisi-puisi-faris-al-faisal-sepohon-rumah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi-Puisi Idul Saputra: Lamunan Pria Muda</title>
		<link>https://lebur.id/2020/09/15/puisi-puisi-idul-saputra-lamunan-pria-muda/</link>
					<comments>https://lebur.id/2020/09/15/puisi-puisi-idul-saputra-lamunan-pria-muda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2020 04:16:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=763</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lamunan Pria Muda Tubuh lelahnya disandarkan dibawah pohon mangga, Setelah mencukur bulu punggung pematang sawah, Nafas memburu mulai mereda perlahan Sambil sesekali menyeka keringat yang muncul di keningnya.. &#160; Angin sejuk menerbangkan pikirannya Terbang bersama lamunan akan jadi apa dirinya di masa depan. Akankah tetap menjemur punggung, menantang matahari dan berkawanan dengan hujan Akankah berteduh [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/15/puisi-puisi-idul-saputra-lamunan-pria-muda/">Puisi-Puisi Idul Saputra: Lamunan Pria Muda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lamunan Pria Muda</strong></p>
<p>Tubuh lelahnya disandarkan dibawah pohon mangga,</p>
<p>Setelah mencukur bulu punggung pematang sawah,</p>
<p>Nafas memburu mulai mereda perlahan</p>
<p>Sambil sesekali menyeka keringat yang muncul di keningnya..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Angin sejuk menerbangkan pikirannya</p>
<p>Terbang bersama lamunan akan jadi apa dirinya di masa depan.</p>
<p>Akankah tetap menjemur punggung, menantang matahari dan berkawanan dengan hujan</p>
<p>Akankah berteduh di payung gedung, bercengkrama dengan deretan dokumen</p>
<p>Ataukah beradik dengan pena, berkakak dengan buku, bercengkrama dengan tulisan..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tiba tiba lamunannya pecah memandang awan yang menghitam..</p>
<p>Disusul rintik air yang mulai jatuh..</p>
<p>Dititipkan masa depannya pada Ilahi yang mengetahui segala sesuatu..</p>
<p>Berusaha dan berdoa tetap ia tekuni..</p>
<p><em>Maninjau, 13 September 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Padi dan Baris Berbaris</strong></p>
<p>Hamparan padi yang menghijau mengisi ruang pandangan..</p>
<p>Berbaris rapi layaknya pasukan baris berbaris..</p>
<p>Lancang kanan, lancang depan mengatur barisan..</p>
<p>Melambangkan kokohnya pasukan bila diikat kekompokan dan dibungkus kesolidan..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Andai barisan itu barisan pemuda Indonesia</p>
<p>Barisan yang siap mengudara dan mengkiprahkan sang garuda</p>
<p>Barisan penyokong kemudi kapal di lautan ombak penghadang..</p>
<p>Sungguh, barisan itu barisan yang dirindukan..</p>
<p><em>Sorik, 13 September 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kelahiran Puisi</strong></p>
<p>Dia mengandung di perjalanan pulang..</p>
<p>Pikirannya didatangi saripati kata..</p>
<p>Dihadiri juga sel ovum kalimat..</p>
<p>Mereka menyatu di kepala bukan di perut..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kata dan kalimat dibungkus bait bait..</p>
<p>Pikirannya muntah muntah, mungkin efek pembuahan..</p>
<p>Masa kandungan semakin tua..</p>
<p>Huruf-huruf sudah mulai menendang ingin keluar..</p>
<p>Dia menyendiri, menyepi mencari tempat yang nyaman untuk prosesi kelahiran..</p>
<p>Ceess, bayi puisi lahir di kertas buram..</p>
<p><em>Sorik, 13 September 2020</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Padi menguningkan Harapan</strong></p>
<p>Harapan petani kini semakin dekat,</p>
<p>Dekat pada masa panen yang ditunggu</p>
<p>Bulir kuning matang mencerahkan mata petani, yang semakin sayup di cicipi usia..</p>
<p>Harapan menggantung pada tiap tangkai bulir, merunduk mengisyaratkan kebesaran hati petani,</p>
<p>Menari, melambaikan daun daun masak kekuningan</p>
<p>Digoyangkan angin sepoi di sore itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Harapan sudah ditulis rapi..</p>
<p>Menyusun rancangan anggaran dan belanja rumah keluarga..</p>
<p>Merancang hutang mana yang segera dilunasi, kemana hasil panen akan dialokasikan</p>
<p>Semua sudah ditulis dalam pikiran petani itu..</p>
<p><em>Maninjau, 13 September 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<hr />
<p><strong>IDUL SAPUTRA</strong>:  <em>lahir di Sorik, 23 Januari 2000, tinggal di Pasaman, Sumatera Barat. Mahasiswa Ekonomi Syariah IAIN Bukittinngi. Akun Fb Idul Saputra, Ig idoel Sapoetra23</em></p>
<hr />
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/15/puisi-puisi-idul-saputra-lamunan-pria-muda/">Puisi-Puisi Idul Saputra: Lamunan Pria Muda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2020/09/15/puisi-puisi-idul-saputra-lamunan-pria-muda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi-puisi RM Maulana Khoerun: Sebuah Pertanyaan</title>
		<link>https://lebur.id/2020/09/12/puisi-puisi-rm-maulana-khoerun-sebuah-pertanyaan/</link>
					<comments>https://lebur.id/2020/09/12/puisi-puisi-rm-maulana-khoerun-sebuah-pertanyaan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2020 02:19:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=759</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebuah Pertanyaan di bawah warna bulan malam ini, Alvrida. kamarku menyimpan tanya, :apakah aku tak bisa menulis puisi selain namamu yang terbalut sepi? &#160; setiap kata adalah rongga-rongga sesak oleh nyanyian rindu dengan beragam nada dan debur ombak harapan bisu. &#160; kita akan saling mengerti saat takdir selesai menyisir kenangan yang tak kunjung usai mengubah [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/12/puisi-puisi-rm-maulana-khoerun-sebuah-pertanyaan/">Puisi-puisi RM Maulana Khoerun: Sebuah Pertanyaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sebuah Pertanyaan</strong></p>
<p>di bawah warna bulan malam ini, Alvrida.</p>
<p>kamarku menyimpan tanya,</p>
<p><em>:apakah aku tak bisa menulis puisi</em></p>
<p><em>selain namamu yang terbalut sepi?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>setiap kata adalah rongga-rongga</p>
<p>sesak oleh nyanyian rindu</p>
<p>dengan beragam nada</p>
<p>dan debur ombak harapan bisu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>kita akan saling mengerti saat takdir selesai</p>
<p>menyisir kenangan yang tak kunjung usai</p>
<p>mengubah dingin angin malam</p>
<p>menjadi kendaraan penyampai pesan</p>
<p>perihal berita di ujung perasaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Alvrida, mari kita membaca nasib</p>
<p>menanak senja menjelang magrib</p>
<p>sebelum gelap berkuasa</p>
<p>menanam apa yang sering disebut luka.</p>
<p><em>Pulosari, 2020</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Jarum Waktu</strong></p>
<p>jarum waktu di tanganku</p>
<p>bersiap meluncur-menerka masuk ke dadamu.</p>
<p>hujan dan angin tak mau duduk bersama</p>
<p>di halaman. sibuk berlari mengejar debu-debu</p>
<p>dan membunuh nyanyi rerumputan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>pisau sangkur masih dalam sarung</p>
<p>gemetar memohon keluar,</p>
<p>ingin memancar-mengoyak</p>
<p>sisa ruang di perutmu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>aku ‘kan datang!</p>
<p>menghantuimu!</p>
<p>menangkapmu!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>menyulap tubuhmu jadi hidangan setan kesepian!</p>
<p>ketika hari itu tiba, burung gagak lantang bersiul.</p>
<p>iring pisau dan jarum mendarat-menghisap</p>
<p>kehormatan dari tubuhmu.</p>
<p><em>Pulosari, 2020</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Di Pertengahan Malam</strong></p>
<p>di sudut paling gelap kamar ini</p>
<p>di saat bintang-bintang menari-nari</p>
<p>kita tak pernah sekalipun melepas janji</p>
<p>atau melempar harapan ke tanah yang sepi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>barangkali kisah kita adalah doa</p>
<p>yang tak pernah putus dari mulut perapalnya</p>
<p>membentuk lingkaran-lingkaran di atas air</p>
<p>tanpa merisaukan adanya kalimat terakhir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>akankah kita selalu mercinta, Kasih?</p>
<p>sebuah tanya membuat aku terdiam</p>
<p>sembari menumpuk serpihan angin malam</p>
<p>dan meyakinkan diri, kita akan abadi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>adapun rindu yang kuseduh setiap pagi</p>
<p>adalah gerbong kereta yang melaju kencang</p>
<p>menuju pusat hatimu yang lapang</p>
<p>sebelum sore hanya menyisakan bayang-bayang.</p>
<p><em>Pulosari, 2020</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Satu Dari Beberapa</strong></p>
<p>benda-benda mendekap tubuhku</p>
<p>menata kembali sebagian bau yang hilang</p>
<p>dan jatuh setelah satu dari lima</p>
<p>kelopak mawar berhambur di halaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sebuah kata dari buku puisi Sapardi</p>
<p>adalah satu dari lima sayap yang singgah</p>
<p>menata aroma pada lumbung ingatan</p>
<p>sebelum para wanita melenyap keperawanan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>pasang surut angin musim kemarau</p>
<p>tak`kan pernah sampai pada rongga</p>
<p>ruang sakit dan sesak dalam dada.</p>
<p><em>Pulosari,2020</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Dalam Diam</strong></p>
<p><em>&#8212;Ma&#8217;lufah dan Kisah Cintanya</em></p>
<p>setelah butir-butir perasaan</p>
<p>selalu jatuh di ujung diam</p>
<p>aku tak pernah benar-benar tahu</p>
<p>siapa yang telungkup di hatimu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>barangkali, harapan hanya doa</p>
<p>yang tak sampai pada tempatnya</p>
<p>atau mungkin hanya selembar daun</p>
<p>yang dipaksa untuk cepat gugur.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>bersama angin malam ini</p>
<p>apa yang tersimpan dalam dadaku</p>
<p>tinggal sebuah dinding perahu</p>
<p>tanpa bisa berlayar ke laut rindu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>aroma hujan, seperti mulai mengingatkan</p>
<p>tentang bunyi detak jarum waktu</p>
<p>yang mengurung setiap luka</p>
<p>pada setiap detiknya.</p>
<p><em>Pulosari, 2020</em></p>
<hr />
<p><strong>RM MAULANA KHOERUN,</strong> <em>lahir di Siremeng, Pulosari, Pemalang. Menulis Puisi dan Cerpen. Salah satu pendiri grup literasi “RASI PENA” dan aktif sebagai Divisi Cipta Karya komunitas sastra “KIDUNG PENA”. Beragam prestasi juga sudah diraihnya, antara lain Juara 1 Lomba Cipta Puisi tingkat Nasional PBSI UHAMKA. Juara 1 Lomba Cipta Puisi Graf Indonesia. Penulis terfavorit Lomba Cipta Puisi KMSI Universitas Diponegoro, Juara Harapan 1 Lomba Cipta Puisi se Jateng-DIY UMNU Kebumen, tulisannya sudah dimuat di berbagai media.</em></p>
<hr />
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/12/puisi-puisi-rm-maulana-khoerun-sebuah-pertanyaan/">Puisi-puisi RM Maulana Khoerun: Sebuah Pertanyaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2020/09/12/puisi-puisi-rm-maulana-khoerun-sebuah-pertanyaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi-Puisi Rilen Dicki Agustin: Mata Cinta</title>
		<link>https://lebur.id/2020/09/05/puisi-puisi-rilen-dicki-agustin-mata-cinta/</link>
					<comments>https://lebur.id/2020/09/05/puisi-puisi-rilen-dicki-agustin-mata-cinta/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2020 04:52:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=738</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mata Cinta Pagi aku melihat mata cinta menjerit di atas langit pun tersenyum malu di atas gedung pencakar langit. &#160; Siangnya mata cinta kulihat berangsur padam isurut kembali ke rahim alam. &#160; Saat mata cinta hilang lahir mata-mata yang lain seperti mata senja berwarna jingga, kemudian beranjak ke malam tumbuh mata bulan. Namunwalau mata cinta [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/05/puisi-puisi-rilen-dicki-agustin-mata-cinta/">Puisi-Puisi Rilen Dicki Agustin: Mata Cinta</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mata Cinta</strong></p>
<p>Pagi</p>
<p>aku melihat mata cinta menjerit di atas langit</p>
<p>pun tersenyum malu</p>
<p>di atas gedung pencakar langit.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Siangnya</p>
<p>mata cinta kulihat berangsur padam</p>
<p>isurut kembali ke rahim alam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saat mata cinta hilang</p>
<p>lahir mata-mata yang lain</p>
<p>seperti mata senja berwarna jingga,</p>
<p>kemudian beranjak ke malam</p>
<p>tumbuh mata bulan. Namunwalau mata cinta</p>
<p>berangsur padam,</p>
<p>ia tetap abadi di jantung si puan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mata cinta itu di lapisan dada terdalam</p>
<p>yang akan kuhibur</p>
<p>dengan dendang seikat bunga mawar</p>
<p>demi memenuhi kebutuhan nan romantis</p>
<p>dari patikan syair-syair kesunyian malam.</p>
<p><em>(Padang, 2020)</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Cinta Sederhana</strong></p>
<p><strong> </strong>Menatapmu puan sama seperti aku menikmati sepiring nasi</p>
<p>yang kusantap dengan tangan</p>
<p>sebab aku lebih tulus mencintaimu secara sederhana</p>
<p>sebagaimana nasi yang tak sempat kusendoki ke dalam perut.</p>
<p>Sederhananya, aku memilih makan dengan tangan</p>
<p>karena aku mencintaimu penuh kesederhanaan dan tantangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kesederhaan itu aku yang tak mampu mencintaimu</p>
<p>dengan mewah</p>
<p>bagai sendok yang tak berucap kepada nasi</p>
<p>yang menjadikan tantangan dalam kelangsungan hidup cinta kita.</p>
<p><em>(Padang, 2020)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Menjahit Mata Bocor</strong></p>
<p>Jahitlah kembali air matamu</p>
<p>yang sempat bocor dan membanjiri daratan itu puan</p>
<p>sebab air matamu itu</p>
<p>bukan untuk mengadili</p>
<p>melainkan mengasihi.</p>
<p><em>(Padang, 2020)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong><strong>Hati yang Patah</strong></p>
<p>Jika hati engkau patah di tengah jalan</p>
<p>itu bukan musibah</p>
<p>melainkan sebuah ujian</p>
<p>yang menyayangimu</p>
<p>dengan sebilah cinta dalam doa.</p>
<p>Doa pada engkau yang sanggup</p>
<p>menjalaninya dengan ikhlas dan sabar.</p>
<p><em>(Padang, 2020)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Menikmati Daging</strong></p>
<p>Aku membuka wajah</p>
<p>padanya kulihat gambar</p>
<p>belahan daging. Membuat mata</p>
<p>tak karuan</p>
<p>dengan kefanaan dunia sesaat</p>
<p>pakai sarung pisau, tang, dan ngan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Enak memang, tiada duanya</p>
<p>Menikmati gondokan-gondokan daging</p>
<p>yang berlipat. Pinggir-pinggir berlumut putih</p>
<p>Kumasukkan sesuatu, wah-wah enak. Belum pernah aku rasakan</p>
<p>Baru pertama kali dalam hidup ini. Rasanya.. manis-manis gitu</p>
<p>Enak banget!</p>
<p><em>(Padang, 2020)</em></p>
<hr />
<p><strong>RILEN DICKI AGUSTIN: </strong><em>lahir 10 Agustus 1999 di Pasaman. Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Andalas Padang. Aktif di FSIFIB 2018/2019, Wakil Ketua Labor Sastra dan Seni FIB. Ia penulis puisi, cerpen, esai, danlain-lain. Karyanya dimuat diberbagai media massa. Buku tunggalnya Lupa Hormat Pada Merah Putih(2020). Email: rilendickiagustin12@gmail.com</em></p>
<hr />
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/05/puisi-puisi-rilen-dicki-agustin-mata-cinta/">Puisi-Puisi Rilen Dicki Agustin: Mata Cinta</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2020/09/05/puisi-puisi-rilen-dicki-agustin-mata-cinta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi-puisi Mohammad Rizal Fikri: Kompas Hati</title>
		<link>https://lebur.id/2020/09/01/puisi-puisi-mohammad-rizal-fikri-kompas-hati/</link>
					<comments>https://lebur.id/2020/09/01/puisi-puisi-mohammad-rizal-fikri-kompas-hati/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2020 03:58:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=735</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kompas Hati Ada yang tak beres dengan akal Dengan lambat berpikir nakal Ruang tidur mulai kesal Saat aku memilihmu, untuk hidup kekal Blitar,(2020) &#160; Agreorei Sebuah negeri nakal dengan banyak pecundang Banyak mimpi dengan sejuta angan &#160; Negeri yang kotor untuk seorang yang bersih Merajut sensasi dengan pemimpin mata satu Sangat adil untuk membela kejahatan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/01/puisi-puisi-mohammad-rizal-fikri-kompas-hati/">Puisi-puisi Mohammad Rizal Fikri: Kompas Hati</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kompas Hati</strong></p>
<p>Ada yang tak beres dengan akal</p>
<p>Dengan lambat berpikir nakal</p>
<p>Ruang tidur mulai kesal</p>
<p>Saat aku memilihmu, untuk hidup kekal</p>
<p><em>Blitar,(2020)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Agreorei</strong></p>
<p>Sebuah negeri nakal dengan banyak pecundang</p>
<p>Banyak mimpi dengan sejuta angan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Negeri yang kotor untuk seorang yang bersih</p>
<p>Merajut sensasi dengan pemimpin mata satu</p>
<p>Sangat adil untuk membela kejahatan</p>
<p>Yang salah dibela,</p>
<p>Dan yang benar ditindas keras</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kalau kau ingin kenegeriku</p>
<p>Maka jangan mengaku orang baik</p>
<p>karena disana semua bukan orang baik-baik</p>
<p><em>Blitar, (2020)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Keranjang Hidangan</strong></p>
<p>Aku datang seperti bom menghajar</p>
<p>Dalam ruang pahit yang menipis dalam malam</p>
<p>Aku memberontak seperti kopi yang tidak mau manis</p>
<p>Dan Akhirnya sunyi menyambar dalam hidangan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Meja makan penuh makanan</p>
<p>Kursi sudah dingin tanda ingin dicumbu</p>
<p>Resep rindu bersifat rahasia mengangkasa</p>
<p>sungguh lezat rasanya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perut mulai berbicara</p>
<p>Setiap langkah nada sendok bergetar</p>
<p>Piring tak mau kalah dengan sendok</p>
<p>Dengan semangat mulai juga berbicara</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan nada kasar piring berbicara keras</p>
<p>“Praak&#8230;”</p>
<p>Sial, malah membuat gaduh suasana</p>
<p><em>Jombang, (2020)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pendaki Gunung</strong></p>
<p>AKU</p>
<p>Adalah: pendaki gunung</p>
<p>Siap melangkah dengan semangat tanpa lelah</p>
<p>Satu tujuan dalam hidup dan arah rumah dalam pulang kembali</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cinta adalah kata</p>
<p>Setiap langkah penuh dengan rasa</p>
<p>Inti dari semua kehidupan aku serap mentah</p>
<p>Dengan alam aku belajar untuk menjadi manusia utuh</p>
<p><em>Jombang, (2020)</em></p>
<hr />
<p><em>MOHAMMAD RIZAL FIKRI:</em> <em>lelaki yang lahir dan tinggal di Jombang. Ia adalah mahasiswa aktif prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Stai Al-Fithrah Surabaya. Ia aktif juga sebagai anggota komunitas Senja (Sentuhan Pena Remaja) di kampusnya.</em></p>
<hr />
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/09/01/puisi-puisi-mohammad-rizal-fikri-kompas-hati/">Puisi-puisi Mohammad Rizal Fikri: Kompas Hati</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2020/09/01/puisi-puisi-mohammad-rizal-fikri-kompas-hati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi &#8211; Puisi Mohammad Latif</title>
		<link>https://lebur.id/2020/06/26/puisi-puisi-mohammad-latif-malam-begitu-dingin/</link>
					<comments>https://lebur.id/2020/06/26/puisi-puisi-mohammad-latif-malam-begitu-dingin/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[lebur.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2020 03:47:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lebur.id/?p=567</guid>

					<description><![CDATA[<p>Malam begitu dingin  Malam begitu dingin Hujan deras di dadamu menggugah banyak Tanya Ruang imaji yang palsu Juga suara-suara yang sumbang di perbukitan &#160; Dada kita masih sama Rasa yang hilang dimakan api Malam kita masih sama Malam yang dingin diselimuti sepi &#160; Seperti malamini kau dan aku duduk Saling curiga dan tak percaya Sumenep [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/06/26/puisi-puisi-mohammad-latif-malam-begitu-dingin/">Puisi &#8211; Puisi Mohammad Latif</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Malam begitu dingin</strong></p>
<p><strong> </strong>Malam begitu dingin</p>
<p>Hujan deras di dadamu menggugah banyak Tanya</p>
<p>Ruang imaji yang palsu</p>
<p>Juga suara-suara yang sumbang di perbukitan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dada kita masih sama</p>
<p>Rasa yang hilang dimakan api</p>
<p>Malam kita masih sama</p>
<p>Malam yang dingin diselimuti sepi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seperti malamini kau dan aku duduk</p>
<p>Saling curiga dan tak percaya</p>
<p>Sumenep 2020</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pesan</strong></p>
<p><strong> </strong>Rosa, untukmu kini</p>
<p>Menunggu gema datang</p>
<p>Disini percakapan gugur seketika</p>
<p>Menunggu reda yang belum tiba</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rosa, untukmu kini</p>
<p>Hati yang ingin turut bahagia</p>
<p>Menunggu seluruh rahasia</p>
<p>Menanggung gigil dari rindu</p>
<p>Hingga malam kian larut dan mencekam</p>
<p>;seperti hatiku yang medekam dalam amuk tanda Tanya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rosa, untukmu kini</p>
<p>Seluruh cinta dan rindu ditasbihkan</p>
<p>Sumenep, 2020</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Obituarium</strong></p>
<p><strong> </strong>Pada sampul sebuah berita</p>
<p>Wajahmu terlihat lesu</p>
<p>Kau kuyup dengan kata-kata yang membabi buta</p>
<p>Dihujat dan dihina</p>
<p>Sebagai lelaki kau kehilangan nama</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Orang-orang menghantar tangis</p>
<p>Air mata membaur dengan beberapa cerita</p>
<p>Pagi begitu dingin jadinya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cerita itu mengalir menjadi banyak versi</p>
<p>Menjadi semakin kejam</p>
<p>Semakin menimbulkan banyak Tanya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak lama kau pun sirna</p>
<p>Dibakar dalam Koran dan televisi</p>
<p>Sumenep  2020</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Malam dalam secangkir kopi</strong></p>
<p><strong> </strong>Aku sembunyi pada malam yang diaduk dalam secangkir kopi</p>
<p>Dan pada dadamu yang remuk oleh kata-kata</p>
<p>Aku ingin tenang menunggu segala perjamuan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Malam kini berputar dalam kepala</p>
<p>Memperjauh jarak</p>
<p>Menyekat seluruh perjumpaan</p>
<p>Dalam secangkir kopi</p>
<p>Malam-malamku dipasung dengan segala kegetiran</p>
<p>Sumenep 2020</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Antara aku dan kamu</strong></p>
<p><strong> </strong>Jalan-jalan semakin terbuka lebar</p>
<p>Tapi segala pintu kian tertutup</p>
<p>Seperti aku dan kamu  yang semakin terpuruk</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kau kelimpungan aku kebingungan</p>
<p>Kita sama-sama tersuruk diantara terjaga dan bermimpi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Waktu semakin berlarian di sepanjang jalan kegaduhan</p>
<p>Antara aku dan kamu</p>
<p>Sumenep 2020</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Rindu kampung halaman</strong></p>
<p><strong> </strong>Bergegaslah jangan tahan deru rindu</p>
<p>Tuntaskan harap</p>
<p>Biar terus tergerus tak terbawa arus</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Suka duka masa kecil kita mengerling</p>
<p>Pada rindu kampung halaman</p>
<p>Membias pada titik paling sunyi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jangan dulu duka</p>
<p>Biarkan dulu suka menyentuh relung paling dalam dari hati</p>
<p>Sumenep 2020</p>
<hr />
<p><strong>MOHAMMAD LATIF</strong>: <em>lahir di Sumenep 28 Desember 1998 pernah aktif di Taneyan Kesenian Bluto (TKB), Forum Belajar Sastra (FBS), Sanggar Asap, dan sekarang masih berproses di UKM Teater Fataria IAIN MADURA. Mohammad Latif (fb) 085259998770 (WA)</em></p>
<hr />
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lebur.id/2020/06/26/puisi-puisi-mohammad-latif-malam-begitu-dingin/">Puisi &#8211; Puisi Mohammad Latif</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lebur.id">Lebur.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lebur.id/2020/06/26/puisi-puisi-mohammad-latif-malam-begitu-dingin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
