Oleh: Ahmad Wiyono
Kaula Muda Nahdlatul Ulama Madura
Semalam, Selasa (27/10/2026), Kabupaten Pamekasan menghadirkan sebuah ikhtiar yang berangkat dari tradisi keagamaan masyarakatnya. Pembacaan Sholawat Nariyah digelar secara serentak di seluruh kecamatan. Bukan sekadar kegiatan seremonial, agenda ini merepresentasikan pendekatan kultural-spiritual pemerintah daerah dalam mengiringi ikhtiar pembangunan dengan doa, sekaligus merawat hubungan antara pemerintah, masyarakat, dan nilai-nilai religius yang telah lama hidup di tengah masyarakat Madura.
Sebelumnya, pembacaan sholawat serupa telah rutin dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Pamekasan dan sejumlah tempat lainnya. Namun, pelaksanaan serentak di seluruh kecamatan memberikan dimensi yang berbeda. Jika kegiatan di pendopo memperlihatkan ikhtiar spiritual dari pusat pemerintahan, pelaksanaan di berbagai kecamatan menghadirkan ruang partisipasi yang lebih luas. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga dilibatkan dalam ikhtiar batin untuk mengiringi perjalanan daerahnya. Di sinilah pembacaan Sholawat Nariyah dapat dibaca lebih jauh: sebagai pertemuan antara gerak struktural pemerintahan dan gerak kultural masyarakat.
Pembangunan daerah lazim diukur melalui indikator yang konkret: pertumbuhan ekonomi, penurunan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, infrastruktur, dan kesejahteraan masyarakat. Semua itu penting dan harus menjadi ukuran utama keberhasilan pemerintahan. Namun, pembangunan juga memiliki dimensi sosial dan batiniah yang tidak selalu dapat diterjemahkan melalui angka.
Masyarakat membutuhkan harapan, rasa memiliki, dan keyakinan bahwa perubahan yang diupayakan bersama memiliki makna. Dalam konteks inilah pendekatan religius memperoleh relevansinya, terutama di Pamekasan, yang kehidupan sosialnya berkelindan erat dengan tradisi pesantren, ulama, masjid, dan amaliah keagamaan.
Pemerintah daerah yang memahami karakter masyarakatnya tentu tidak cukup hanya bekerja melalui surat keputusan, program kedinasan, dan laporan administratif. Pemerintahan juga perlu membangun komunikasi kultural yang menyentuh kesadaran masyarakat. Pembacaan sholawat secara serentak menjadi salah satu cara untuk merawat dimensi tersebut.
Tradisi ini bukan pengganti perencanaan pembangunan, apalagi substitusi bagi kerja keras aparatur. Ia merupakan ikhtiar pendamping: menghubungkan usaha lahiriah dengan harapan batiniah, sekaligus mengingatkan bahwa pembangunan merupakan pekerjaan bersama yang membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan tanggung jawab.
Dalam pandangan Islam, manusia diperintahkan untuk berusaha, sementara hasil akhirnya berada dalam ketetapan Allah SWT. Prinsip ini tidak mengajarkan kepasrahan tanpa tindakan. Sebaliknya, keyakinan kepada takdir seharusnya menumbuhkan keteguhan dalam berikhtiar, disertai kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan.
Pembacaan Sholawat Nariyah dalam konteks pembangunan dapat ditempatkan pada kerangka tersebut. Sholawat merupakan ekspresi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus bagian dari tradisi ibadah yang menghidupkan harapan, ketenteraman, dan kedekatan spiritual. Melalui sholawat, masyarakat memohon agar ikhtiar yang dilakukan mendapatkan keberkahan, keselamatan, dan kemudahan dari Allah SWT.
Tentu, keberhasilan suatu program pemerintah tidak dapat dipastikan hanya karena sebuah ritual keagamaan telah dilaksanakan. Pembangunan tetap membutuhkan kebijakan yang tepat, anggaran yang dikelola secara bertanggung jawab, aparatur yang kompeten, serta pengawasan yang berjalan. Akan tetapi, bagi masyarakat beriman, doa memiliki tempat penting dalam menyertai seluruh usaha tersebut. Dengan demikian, ikhtiar spiritual bukanlah jalan pintas menuju keberhasilan, melainkan penguatan nilai yang menyertai proses panjang pembangunan.
Membaca Tradisi Melalui Perspektif Aswaja
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, agama tidak dipahami semata-mata sebagai urusan individual yang berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan. Keberagamaan juga harus tercermin dalam akhlak, kepedulian sosial, persaudaraan, dan tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
Perspektif Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah menawarkan prinsip tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (adil dan tegak lurus), serta tasamuh (toleran). Prinsip-prinsip tersebut relevan untuk membaca hubungan antara spiritualitas dan pembangunan. Tradisi keagamaan perlu dirawat tanpa mengabaikan rasionalitas kebijakan; semangat kebersamaan perlu diperkuat tanpa menghilangkan keadilan; dan nilai agama harus menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat luas.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran KH Said Aqil Siroj, -tokoh NU-, yang menekankan bahwa Islam merupakan agama sosial yang mengutamakan kebersamaan dan kepedulian terhadap kelompok yang membutuhkan. Dalam pemberitaan NU Online pada 8 Mei 2021, ia menggarisbawahi pentingnya gotong royong dan perhatian terhadap fakir miskin sebagai bagian dari ajaran Islam.
Pesan tersebut memberi penegasan bahwa keberhasilan spiritualitas tidak cukup diukur dari semaraknya kegiatan keagamaan. Nilai-nilai yang tumbuh dari kegiatan itu semestinya menjelma menjadi kepedulian sosial, keberpihakan kepada masyarakat kecil, dan kesediaan bekerja bersama mengatasi persoalan publik.
Bagi kepemimpinan daerah yang tumbuh dari tradisi Nahdliyin, tantangannya justru terletak pada kemampuan menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam kebijakan yang nyata. Sholawat yang dilantunkan bersama perlu menemukan kelanjutannya dalam pelayanan publik yang lebih baik, pemerataan pembangunan, serta perhatian terhadap warga yang masih menghadapi kesulitan ekonomi.
Pembacaan Sholawat Nariyah serentak juga membuka ruang bagi pendekatan partisipatif-religius. Partisipasi masyarakat tidak selalu harus dimulai dari forum musyawarah formal. Ia dapat tumbuh melalui ikatan emosional dan spiritual yang membuat warga merasa menjadi bagian dari tujuan bersama.
Dalam masyarakat Pamekasan yang memiliki kedekatan kuat dengan pesantren dan tradisi keulamaan, pendekatan semacam ini berpotensi menjadi modal sosial. Masjid, musala, pesantren, tokoh agama, dan komunitas warga dapat menjadi simpul komunikasi sekaligus ruang tumbuhnya kepedulian terhadap persoalan daerah.
Namun, partisipasi religius akan lebih bermakna apabila tidak berhenti pada kehadiran dalam kegiatan serentak. Ia perlu diteruskan menjadi keterlibatan masyarakat dalam mengawal program pemerintah, menyampaikan kebutuhan warga, menjaga lingkungan, membantu kelompok rentan, dan membangun budaya gotong royong.
Di titik ini, keberhasilan pendekatan spiritual tidak ditentukan oleh seberapa serempak suara sholawat terdengar, melainkan juga oleh seberapa jauh nilai persaudaraan dan kepedulian yang menyertainya tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Menjaga Keseimbangan Antara Doa dan Kerja
Gagasan mengiringi pembangunan dengan sholawat menemukan relevansinya dalam semangat Gerbang Salam (Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami), yang dikenal dalam perjalanan sosial-keagamaan Pamekasan. Semangat ini mengingatkan bahwa identitas religius daerah dapat menjadi sumber etika publik, bukan sekadar simbol yang dipertontonkan dalam acara resmi.
Namun, nilai tersebut harus dijaga agar tidak berhenti pada simbolisme. Pemerintahan yang menghidupkan tradisi keagamaan juga perlu memastikan bahwa prinsip keadilan, amanah, transparansi, dan kemaslahatan menjadi ruh dalam setiap kebijakan. Sebab, dalam pandangan Aswaja, keseimbangan antara hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas) merupakan bagian penting dari kehidupan yang baik.
Doa dan kerja bukan dua hal yang saling meniadakan. Keduanya berada dalam ruang ikhtiar yang berbeda, tetapi dapat saling menguatkan. Doa merawat harapan dan kerendahan hati; kerja memastikan harapan itu diperjuangkan melalui langkah-langkah yang terukur.
Pada akhirnya, pembacaan Sholawat Nariyah serentak di Pamekasan dapat dimaknai sebagai ajakan untuk menyatukan niat, merawat kebersamaan, dan memohon keberkahan bagi daerah. Pemerintah berikhtiar melalui kebijakan, aparatur bekerja melalui pelayanan, dan masyarakat mengambil bagian melalui partisipasi serta kepedulian.
Tidak ada jaminan bahwa jalan pembangunan akan selalu mudah. Namun, keyakinan bahwa manusia wajib berusaha dan Allah menentukan hasil akhir memberi alasan untuk terus bekerja tanpa kehilangan harapan.
Sebab, pembangunan yang baik bukan hanya tentang seberapa jauh sebuah daerah bergerak maju, melainkan juga tentang nilai apa yang menyertai perjalanan itu dan siapa saja yang merasakan manfaatnya.
Sholawat menjadi ikhtiar batin. Kebijakan menjadi ikhtiar struktural. Gotong royong menjadi ikhtiar sosial. Ketiganya akan menemukan makna yang lebih utuh ketika diarahkan pada satu tujuan: menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat Pamekasan.
Semoga lantunan sholawat malam ini bisa menghidupkan semangat pengabdian, memperkuat persaudaraan, dan mengiringi kerja nyata menuju Pamekasan yang lebih adil, sejahtera, dan penuh keberkahan.
Berikan Balasan