Melacak Syi’ir dan Langgam Tentang KH. Muhammad Djufri Marzuqi

ILUSTRASI KH. MUHAMMAD DJUFRI MARZUKI

Oleh: Hasani Utsman*)

BEBRAPA bulan yang lalu, penulis telah mempublikasikan tulisan di yang berjudul Syi’ir Madura: Merangkai Agama, Moral, Tarekat dan Sejarah dalam Untaian Bait tentang kedekatan pesantren dan muslim tradisional di Madura dengan tradisi syi’ir  berbahasa Madura yang ditulis dengan aksara Arab (pegon). Syi’ir dilantunkan dengan pola rima, atau setiap baris memiliki bunyi akhir yang sama dalam setiap baitnya. Syi’ir diperdengarkan dengan menggunakan langgam-langgam untuk sebuah kumpulan syi’ir tertentu atau bisa saja meminjam langgam dari syi’ir yang lain.

Pada hari Rabu, tanggal 28 Juli tahun 1965, Kyai Haji Muhammad Djufri Marzuqi dari Sumber Batu Blumbungan Pamekasan, seorang ulama, seorang pejuang yang populer dalam Masyarakat Madura dan Jawa Timur ditikam oleh seorang eksekutor di daerah Bungkak Tambelengan Sampang sepulang menyampaikan ceramah di Kecamatan Durjan, Kokop Bangkalan. Kyai Djufri kemudian syahid di hari Rabu itu. Atas kesyahidannya, masyarakat di Madura kemudian banyak yang menulis syi’ir tentang Kyai Djufri.

Pada tahun 2008, di sebuah warung makan, penulis secara tidak sengaja bertemu yang kemudian berbicara banyak dengan seorang yang suka mengunjungi makam-makam para wali (musafir) di Makam Batu Ampar Kabupaten Pamekasan.  Ia dari kota Bangkalan dan sudah berumur 65 tahun. Setelah Musafir itu mengetahui penulis berasal dari Sumber Batu Blumbungan, ia kemudian bercerita banyak mengenai Kyai Djufri Marzuqi, ketika penulis bertanya, “Dari mana ia tahu mengenai sosok Kyai Djufri?” Musafir yang bernama Muhammad menjawab dan mengatakan, “Orang-orang Madura yang sudah dewasa pada tahun 1965 pasti mengetahui atau pernah mendengar nama Kyai Djufri, apalagi orang itu seorang santri atau siswa yang bersekolah di sebuah madrasah di Madura.” Jawabnya.

Pak Muhammad lalu memberikan informasi yang sangat penting dan sangat berarti bagi penulis. Peristiwa dibunuhnya Kyai Djufri sempat diabadikan menjadi bait-bait syair dalam sebuah kitab berbahasa Madura (syi’iran) dan dilantunkan oleh para siswa di madrasah-madrasah di Madura sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Menurutnya hal itu berlangsung hingga akhir tahun 1967-M.

Terhitung sejak tahun 2015, penulis memang melancarkan dua usaha untuk menemukan kitab syi’ir tentang Kyai Djufri Marzuqi. Pertama berbentuk usaha intelektual, yaitu penulis mencari dan melacak keberadaan kitab tersebut kepada para saksi sejarah terutama kepada para keluarga. Penulis memulai mencarinya di Nyai Hj. Nabawiyah Nadzirah Djufri, Nyai Hj. Maftuhah Djufri kedua putri Almarhum, tapi tidak menemukan hasil. Menurut Nyai Nadzirah, “Setelah peristiwa dibunuhnya Kyai Djufri, memang banyak anggota masyarakat yang secara spontan menulis syi’ir-syi’ir mengenai Kyai Djufri dan dibacakan dalam beberapa kesempatan terutama sebelum kegiatan belajar mengajar, tetapi hal itu justru menyulitkan pihak keluarga untuk sembuh dari trauma. Pada akhirnya, Kyai Haji Chalil Minhaji, seorang menantu Kyai Djufri melarang pembacaan syair-syair itu, terutama di madrasah-madrasah sekitar tempat keluarga Kyai Djufri tinggal.

Penulis sempat melacak dan mencarinya kepada pihak di luar keluarga, dan jawabannya sama. Bahkan, keluarga Kyai Djufri sempat mengalami trauma yang serius kepada pembcaan Shalawat Badar, Kyai Chalil Minhaji melarang santri-santri Sumber Batu membaca Shalawat Badar dan menyuruh membaca shalawat yang lain. Trauma itu ada sebab pada hari peristiwa pembunuhan Kyai Djufri, selama empat puluh hari, ratusan ribu pentakziah mendatangi kediaman keluarga Kyai Djufri sambil meneriakkan Shalawat Badar.

Kedua, usaha spiritual dengan cara berkirim Surah Al-Fatihah khususan kepada Kyai Djufri Marzuqi, dengan harapan Allah Subhanahu Wata’ala mempertemukan penulis dengan kitab syi’ir itu dengan barokahnya hubungan ruh dengan Kyai Djufri.

Menurut informasi yang penulis dapatkan dari orang-orang tua, syi’iran tentang Kyai Djufri itu sempat direkam dalam sebuah kaset dan diputar menggunakan pengeras suara di desa-desa di Madura, terutama di Pamekasan, hal itu berlangsung sampai tahun 1980-an. Pada tahun 2018, penulis sempat mendapatkan kabar baik karena seorang teman merekomendasikan dua nama, satunya tinggal di Tambelengan Sampang, dan satunya lagi tinggal di Sogiyan Omben Sampang, kedua orang yang sempat dikabarkan masih menyimpan kaset pita yang berisi rekaman syi’iran tentang Kyai Djufri Marzuqi. Dengan adanya kaset pita itu, penulis merasa akan mendapatkan bait-bait syi’ir sekaligus langgam yang digunakan untuk membaca syi’ir tersebut. Tapi sayang, kaset pita sudah hilang dan lenyap dimakan waktu dan usia.

Datangnya Dua Naskah Syi’ir tentang Kyai Djufri

Pada dekade tahun 1980-an, di kampung-kampung di Madura memang memiliki kebiasaan memutar rekaman syi’ir menggunakan pengeras suara. Kemudian tahun 2024, ditemukan dan diselamatkan kitab syi’ir tentang Kyai Djufri berjudul: Panèka Syi’ir carètana sè moljâ kèyaè Djufri Marzuqi Sombher Bâṭo atau “Ini Syi’ir Ceritanya yang Mulia Kyai Djufri Marzuqi Sumber Batu” yang terdiri dari dua ratus tujuh baris.

Ditulis pada tahun 1967 oleh penulisnya yang mengaku dari Kampung Sumber Kuning, Desa Larangan Badung Kecamatan Palengaan Pamekasan, berdomisili di Desa Ampakan desa Bangkalan, berdomisili di Rambipuji Jember, Naskah yang kemudian ditulis ulang oleh Kyai Murahyak bin Salim dari Kambingan Barat, Lenteng Sumenep, naskah tersebut merupakan koleksi pribadinya yang diserahkan kepada penulis oleh putranya, yaitu Lora Hafifuddin.

Ketika artikel ini ditulis, Kyai Murahyak bin Salim sudah wafat, tapi penulis sempat mengonfirmasi kepada Lora Hafifuddin selaku putra Almarhum. Menurut Lora Hafifuddin, Kyai Murahyak tidak banyak ingat tentang kitab syi’ir tentang Kyai Djufri, Kyai Murahyak sempat berkata tentang kitab tersebut yang beliau salin waktu mondok di Pondok Pesantren Banyuayu Pamekasan dari tahun 1970 sampai tahun 1980-an.

Pada hari Minggu tanggal 12 April tahun 2026, penulis menghadiri acara haul warga Kajjan, Blega Bangkalan. Acara juga dihadiri oleh Majelis Kyai Pondok Pesantren Dang Padang Karpote, Blega Bangkalan, hadir juga sesepuh ulama sekitar yaitu KH. Abdullah Syamsuddin. Dalam acara tersebut beliau naskah pribadinya yang berisi tentang syi’ir-syi’ir berbahasa Madura. Naskah milik Kyai Abdullah berisi syi’ir berbahasa Madura tentang Nabi Ayyub AS, Syi’ir Nabi Yusuf AS, juga berisi 105 syi’ir tentang Kyai Djufri Marzuqi berjudul; Hadza Syi’ri min Qisshati Al-Syahid al-Akbar Kyai Ahmad Djufri min Qoryah Sumber Batu Pamekasan Madura Jawa Timur. Kyai Abdullah selesai menyalin syi’ir tentang Kyai Djufri pada hari Selasa tanggal 2 tahun 1397-H atau bertepatan dengan dengan akhir tahun 1976 hingga tahun 1977-M. Kedua naskah memiliki persamaan dan perbedaan. Menurut penulis, naskah dari Kyai Murahyak dan Kyai Abdullah merupakan syi’ir dari penulis yang sama. Perbedaannya ada pada pengunaan kata, seperti dari Kyai Murahyak yang menggunakan angawiti (memulai) sedangkan naskah dari Kyai Abdullah menggunakan kata ngabidih. Perbedaan yang ada sebab memang terdapat perbedaan pengucapan bahasa Madura antara masyarakat Madura Barat dan Madura Timur. Perbedaan yang lain adalah ada pada judul dan jumlah baris, naskah dari Kyai Murahyak berjudul Panèka Syi’ir carètana sè moljâ kèyaè Djufri Marzuqi Sombher Bâṭo atau Ini Syi’ir Ceritanya yang Mulia Kyai Djufri Marzuqi Sumber Batu yang terdiri dari dua ratus tujuh baris. Sedangkan naskah dari Kyai Abdullah berjudul; Hadza Syi’ri min Qisshati Al-Syahid al-Akbar Kyai Ahmad Djufri min Qoryah Sumber Batu Pamekasan Madura Jawa Timur atau, Ini Syi’ir dari Kisahnya Al-Syahidul Al-Akbar Kyai Ahmad Djufri dari Desa Sumber Batu Pamekasan Madura Jawa Timur, terdiri dari seratus lima baris.

Mencari Langgam Bersejarah Syi’ir Tentang Kyai Djufri

Penulis bekerja untuk sebuah agenda dokumentasi, dalam hal ini dokumentasi tentang Kyai Djufri Marzuqi. Usaha dokumentasi naskah yang berisi syi’ir Kyai Djufri penulis anggap lumayan berhasil dengan datangnya dua naskah milik Kyai Almarhum Kyai Murahyak Kambingan Barat dan Kyai Abdullah Syamsuddin Dang Padang. Barangkali yang harus dikerjakan penulis selanjutnya adalah mendokumentasikan langgam atas syi’ir-syi’ir tersebut yang orisinal dari masa lalu. Karena sejarah juga adalah bunyi, sejarah tidak hanya menyangkut angka, teks dan kronik menyangkut suatu peristiwa di masa lalu. Sejarah juga menyangkut suara dari masa lalu, dari saksi dan narasi. Sejarah juga menyangkut cerita tutur, rekaman, pidato, suara, lagu dan memoar. Yang paling penting, sejarah disampaikan menggunakan bahasa-yang dasarnya adalah bunyi, baik bahasa lisan atau tulisan. Menyangkut langgam yang digunakan membaca syi’ir Kyai Djufri, pada tanggal 25 Juli 2026 penulis mendapatkannya dari Pak Mushowwir Dusun Bantar Desa Blumbungan. Ia pada tahun 1965 sudah bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah dan sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, syi’ir tentang Kyai Djufri dibaca secara bersama-sama oleh para siswa, langgamnya masih ia ingat sampai hari ini.

*) Hasani Utsman, penulis buku Hidup Pejuang Mati Pejuang: Biografi As-Syahidul Kabir KH. M. Djufri Marzuqi (1925-1965).