Malam Kemilau Madura di Pamekasan, Bupati Ajak Semua Pihak Jaga Identitas Madura

Malam Kemilau Madura di Pamekasan, Bupati Ajak Semua Pihak Jaga Identitas Madura
Bupati Pamekasan, Kholilurrahman (tengah) didampingi Wakil Bupati Pamekasan, Sukriyanto (kiri) saat menerima piagam Warisan Budaya Tak Benda dari Kemenbud RI, tadi malam.

PAMEKASAN, Lébur.id – Malam puncak Hari Jadi ke-496 Kabupaten Pamekasan berlangsung meriah. Ribuan masyarakat ikut memeriahkan event bertajuk Malam Kemilau Madura tersebut di area monumen Arek Lancor, Senin (2/11/2026) malam.

Hadir pada kegiatan itu, Bupati Pamekasan, Kholilurrahman, Wakil Bupati Pamekasan, Sukriyanto, jajaran forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda), serta seluruh pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Pamekasan.

Kegiatan dengan tema “Simponi Budaya Pamekasan” ini juga dihadiri oleh perwakilan Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI, perwakilan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur, pengusaha, tokoh lokal, regional hingga nasional.

Tidak hanya itu, Malam Kemilau Madura menjadi semakin spektakuler dengan berbagai penampilan seperti Tari Rondhing, musik Balasyik, dan berbagai pertunjukan budaya lainnya. Kemudian juga disediakannya 6.000 porsi makan gratis bagi pengunjung, mulai dari masakan tradisional, masakan timur tengah, hingga masakan ala china.

“Semoga kegiatan ini mampu meningkatkan motivasi kebersamaan kita untuk membangun Madura yang lebih baik lagi,” kata Bupati Pamekasan, Kholilurrahman saat memberikan sambutan dalam acara tersebut.

Pihaknya berkomitmen memajukan berbagai sektor yang muaranya kesejahteraan masyarakat. Mulai sektor kebudayaan, kesenian, olahraga, perekonomian, dan berbagai sektor lainnya. Tentu, hal tersebut perlu dukungan dan partisipasi semua pihak.

“Pendidikan nomor satu, ekonomi nomor satu, olahraga nomor satu, semuanya nomor satu, tidak ada yang nomor dua. Hanya tinggal menunggu waktu, karena masih ada yang harus didahulukan,” ujarnya.

Dikatakan, Pamekasan yang telah berusia 496 tahun ini telah melewati berbagai fase sejarah, perubahan zaman dan dinamika kehidupan masyarakat. Namun, di tengah perubahan itu ada identitas yang tidak boleh hilang, yaitu bahasa Madura.

“Kita memiliki satu kekuatan yang harus terus dijaga, yaitu identitas. Ini tidak boleh dilang, Bahasa Madura tidak boleh hilang. Bahkan saya sudah minta kepada Pak Sekda (Sekretaris Daerah,red) untuk satu hari dalam satu minggu kita berbicara bahasa Madura,” pesannya.

Dia memungkasi, event Kemilau Madura bukan sekadar pentas hiburan masyarakat, melainkan momentum refleksi menjaga persatuan kesatuan dan kebersamaan untuk Pamekasan Bangkit.

“Karena kita tidak hanya merayakan kekayaan budaya, tetapi juga menyaksikan pengalaman atas hasil karya, kreativitas dan inovasi daerah. Penyerahan penghargaan warisan budaya tak benda (WBTB) dari kementerian kebudayaan merupakan bentuk pengalaman atas kekayaan, tradisi dan warisan budaya yang kita miliki,” pungkasnya. (kin)