PAMEKASAN, Lébur.id – Praktik bisnis berkelanjutan tidak selalu dimulai dari teknologi canggih atau kebijakan yang rumit. Kebiasaan menjaga kebersihan, menggunakan sumber daya secara bijak, mengurangi pemborosan, dan membangun etika kerja juga dapat menjadi bagian penting dari upaya memperkuat keberlanjutan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Gagasan inilah yang diangkat tim peneliti STIE Bakti Bangsa melalui penelitian tentang Green Human Resource Management (GHRM) berbasis nilai ekonomi Islam pada UMKM di Madura.
Penelitian berjudul “Green Human Resource Management Berbasis Nilai Ekonomi Islam dalam Penguatan Keberlanjutan dan Pemberdayaan UMKM” tersebut dipresentasikan oleh Safira Adibatul Faruq secara daring melalui Zoom dalam Seminar Nasional Inovasi, Teknologi, Industri, dan Pemberdayaan Ekonomi Agromaritim Berkelanjutan (SINERGI) 2026, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Peternakan Universitas Sembilanbelas November Kolaka, Sulawesi Tenggara, serta diikuti 55 tim peneliti dari perguruan tinggi negeri dan swasta di berbagai wilayah Indonesia.
Kajian tersebut mengambil studi kasus UMKM Wekichen yang berlokasi di Food Colony, Pamekasan. Melalui pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi, tim peneliti berupaya memahami bagaimana praktik pengelolaan sumber daya manusia yang berorientasi pada lingkungan dijalankan dalam aktivitas usaha sehari-hari.
Hasil penelitian mengidentifikasi sejumlah praktik yang berkaitan dengan GHRM, antara lain menjaga kebersihan lingkungan kerja, menggunakan air dan listrik secara bijak, mengelola bahan baku, serta memanfaatkan sisa makanan sebagai pakan ternak.
Dalam aspek pengelolaan tenaga kerja, penelitian juga menemukan praktik kesepakatan mengenai tugas dan upah, penekanan pada tanggung jawab dan kejujuran, serta kesempatan bagi pekerja untuk menyampaikan saran dan belajar.
“Praktik bisnis berkelanjutan dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan aktivitas sehari-hari. Bagi UMKM, menjaga kebersihan, menggunakan sumber daya secara bijak, dan membangun tanggung jawab bersama merupakan langkah yang relevan untuk mengembangkan pola kerja yang lebih peduli terhadap lingkungan,” ujar Safira Adibatul Faruq selaku pemapar penelitian.
Keunikan kajian ini terletak pada upaya menghubungkan praktik pengelolaan sumber daya manusia yang ramah lingkungan dengan nilai-nilai ekonomi Islam. Prinsip thaharah atau kebersihan, menghindari israf atau perilaku berlebih-lebihan, ‘adl atau keadilan, amanah atau tanggung jawab, siddiq atau kejujuran, serta ta’awun atau tolong-menolong digunakan sebagai perspektif untuk memahami praktik pengelolaan usaha dan hubungan kerja.
“Kami melihat bahwa nilai-nilai ekonomi Islam dapat menjadi landasan etis dalam menjalankan praktik pengelolaan usaha yang lebih bertanggung jawab. Nilai amanah, keadilan, kejujuran, dan tolong-menolong relevan untuk membangun lingkungan kerja yang baik, sementara penghindaran pemborosan sejalan dengan perhatian terhadap penggunaan sumber daya secara bijak,” tambahnya.
Menurut kajian tersebut, penguatan keberlanjutan UMKM tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga dengan kebiasaan kerja, perilaku sumber daya manusia, dan nilai-nilai yang mendasari pengambilan keputusan.
Meski demikian, penelitian ini belum mengukur secara kuantitatif besarnya dampak praktik tersebut terhadap kinerja ekonomi maupun lingkungan. Kajian lanjutan diperlukan untuk menilai kontribusinya terhadap keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.
Keikutsertaan tim peneliti dalam SINERGI 2026 menjadi kesempatan untuk membawa kajian berbasis UMKM Madura ke forum ilmiah nasional sekaligus memperluas diskusi mengenai hubungan antara pengelolaan sumber daya manusia, kepedulian lingkungan, dan nilai-nilai ekonomi Islam.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pijakan bagi kajian berikutnya mengenai penguatan keberlanjutan dan pemberdayaan UMKM, khususnya pada sektor usaha makanan dan industri kreatif di Madura. (kin)
