MAKKAH, Lebur.id – Seorang jemaah haji asal Kabupaten Pamekasan, Madura, Taufadi mengungkapkan ketatnya aturan bagi para jemaah calon haji (JCH) guna mempersiapkan diri menyambut puncak pelaksanaan ibadah haji mulai dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Ia menyebut, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI bersama stakeholder terkait terus mengingatkan JCH Indonesia agar mempersiapkan diri dengan baik dan tidak melakukan aktivitas yang tidak perlu menjelang Armuzna.
“Berbagai imbauan terus disampaikan, seperti menjaga stamina dan mental, menjaga kesehatan, mengonsumsi makanan bergizi dan cukup minum, mengurangi aktivitas di luar hotel karena cuaca sangat panas, serta membatasi kegiatan yang menguras fisik,” tuturnya, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, hal itu dilakukan agar jemaah benar-benar fokus beristirahat dan mempersiapkan diri baik fisik maupun mental menghadapi puncak ibadah haji.
Selain itu, lanjutnya, pemerintah kerajaan Arab Saudi juga menutup layanan bus salawat atau city tour ke Masjidil Haram tiga hari menjelang Armuzna, agar jamaah bisa beristirahat di hotel dan fokus mempersiapkan diri untuk rangkaian puncak ibadah haji pada tanggal 8, 9, 10, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Sehingga ia dan jemaah kloter 74 lainnya, utamanya yang berada dibawah bimbingan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Al-Mabrur Pamekasan mengisi waktu dengan memperbanyak ibadah di masjid sekitar, mengadakan istighasah dan tahlil bersama, dan khatmil Qur’an bersama.
“Dengan harapan agar pelaksanaan puncak ibadah haji dimudahkan oleh Allah, dijauhkan dari segala musibah, dan menjadi haji yang mabrur,” ujar suami dari anggota Komisi VIII DPR RI, Hj. Ansari ini.
Disamping itu, ia mengatakan bahwa sempat minder ketika mendengar penjelasan dari pendamping haji KBIHU Al-Mabrur, Alwi Beiq, tentang gambaran perjalanan puncak ibadah haji atau Armuzna. Mulai dari keberangkatan dari hotel ke Arafah, situasi di Arafah, proses murur di Muzdalifah.
“Kemudian kemungkinan jemaah harus berjalan kaki dari Muzdalifah ke tenda Mina jika keluar jalur, perjalanan dari Mina ke tempat jumrah dan kembali lagi agar tidak tersesat, pelaksanaan tawaf dan sa’i ifadah, hingga kenaikan biaya transportasi di Makkah yang bisa mencapai 10 kali lipat saat puncak musim haji,” ungkapnya.
“Setiap kali pemberian materi pembekalan, Bapak Alwi selalu mengingatkan kami agar Jangan sampai lupa niat haji, jangan sampai melanggar larangan ihram, dan jangan sampai lupa niat bermalam di Muzdalifah,” lanjutnya.
Tidak hanya itu, sambungnya, pendamping juga menekankan agar jemaah haji terus memperbanyak bacaan talbiyah dan tidak mengumandangkan takbir sebelum tahallul, wajib menangis meratapi dosa-dosa selama wukuf di Arafah, memperbanyak dzikir selama di Mina dan jangan sampai melakukan hubungan suami-istri sebelum selesai melaksanakan tawaf dan sa’i Ifadah.
Sehingga ia menilai, pelaksanaan Armuzna adalah puncak ibadah haji yang serba mungkin dan tidak mungkin. Sesuatu yang diperkirakan mudah bisa menjadi sulit, begitupun sebaliknya.
“Di situlah inti dari sikap memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah, Sang Khaliq, yang pada hari Arafah, melimpahkan rahmat dan membuka pintu ampunan bagi hambaNya yang bersungguh-sungguh memohon ampunanNya,” tutupnya. (lum)
