Menakar Capres Pilihan Orang Madura

Oleh: Nurul Ulum

Madura, sebuah pulau yang terletak di timur Pulau Jawa dengan luas 5.379 Km² atau meliputi sekitar 10 persen luas provinsi Jawa Timur. Masyarakat pulau Madura dikenal ulet, suka merantau, berkemauan keras dan pantang menyerah, serta menjunjung tinggi etika dan harga diri. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk pulau Madura mencapai lebih dari 4 juta jiwa pada tahun 2023.

Kemudian, karena kebiasaan orang Madura yang suka merantau, suku Madura yang mendiami setiap wilayah di Indonesia berjumlah lebih dari 7 juta jiwa atau setara dengan 3,03 persen total penduduk Indonesia. Jumlah tersebut menempatkan suku Madura sebagai suku dengan populasi terbesar kelima di tanah air. Kendati demikian, data yang dicatat oleh BPS itu sudah terbilang lama, yakni berdasarkan sensus penduduk tahun 2010. Bisa saja, pada data terbaru jumlahnya semakin besar dari itu.

Berangkat dari itu semua, tak ayal jika Madura selalu menjadi destinasi yang menarik bagi para politisi dalam setiap gelaran pesta demokrasi, termasuk pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, 14 Februari mendatang. Ketiga pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) terlihat saling adu ilmu kanuragan untuk meluluhkan hati orang Madura.

Jurus money politic atau politik uang mungkin bisa menjadi senjata andalan dalam meraup suara orang Madura sebanyak-banyaknya. Bisa juga menggunakan strategi kedua yakni menguasai segmen media sosial. Atau boleh saja menggabungkan kedua jurus tersebut. Namun, ketiganya belum tentu menjamin sebuah kemenangan.

Karakter orang Madura yang terkenal memiliki kemauan keras cenderung sulit untuk dijinakkan. Contohnya, pada masa pandemi Covid-19 lalu, berbagai upaya yang dilakukan pemerintah mulai dari pusat, daerah, hingga desa untuk menggalakkan program vaksinasi, terbukti sukar di Madura. Hingga Desember 2021 lalu, vaksinasi di Madura masih belum mencapai target 70 persen nasional.

Selain itu, perlu diingat juga bahwa orang Madura memiliki adagium yang senantiasa mereka pegang teguh, adagium tersebut yakni, “bhapa’ bhabhu’ ghuruh ratoh, ango’ pote tolang katembhang pote matah”. Peran para kiai, guru ngaji, dan tokoh masyarakat di Madura begitu vital dalam penentuan sikap politik orang Madura.

Flashback lagi pada gelaran Pilpres 2019 lalu, dimana pasangan Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno unggul dari pasangan petahana Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Bahkan, waktu itu Prabowo-Sandi menyapu empat kabupaten yang ada di Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep) dengan keunggulan.

Salah satu faktor utamanya yakni pasangan Prabowo-Sandi berhasil merebut simpati dan dukungan lebih banyak dari kalangan para ulama’, tokoh agama, dan tokoh masyarakat Madura, dibanding kompetitornya, pasangan Jokowi-Ma’ruf.

Padahal waktu itu, selain sebagai petahana, pasangan Jokowi-Ma’ruf juga mendapat dukungan dari organisasi masyarakat (ormas) terbesar di Madura, yakni Nahdlatul Ulama’ (NU). Tapi, faktanya belum tentu para kader NU di pelosok-pelosok desa semuanya mengikuti seruan yang dikumandangkan oleh para pengurus atau struktural.

Fakta-fakta diatas sudah seyogyanya dijadikan pijakan bagi para politisi nasional untuk meraih kejayaan di pulau garam, serta juga untuk menguasai suara suku Madura di berbagai daerah di tanah air. Tentunya, pelajaran itu tidak hanya berlaku untuk para politisi yang berasal dari luar Madura, melainkan juga termasuk bagi para politisi yang masih merupakan putra Madura itu sendiri.

Sejauh ini, dari tiga pasangan Capres-Cawapres Pemilu 2024, hanya pasangan Anies-Muhaimin (AMIN) yang menyapa langsung masyarakat Madura. Hal itu dilakukannya pada momen kampanye akbar, Rabu (31/1/2024) lalu. Pada hari itu, pasangan AMIN menjajal tiga kabupaten sekaligus di Madura, mulai dari kabupaten Sumenep, Pamekasan, dan Bangkalan.

Sekilas, pasangan tersebut tampak mendapat restu dan dukungan besar dari para ulama’, tokoh, dan masyarakat Madura. Hal itu jika dilihat dari banyaknya para kiai, habaib, dan tokoh Madura yang turut hadir dan mendeklarasikan dukungannya untuk pasangan AMIN. Belum lagi, membludaknya massa yang hadir dalam kampanye akbar di tiga kabupaten itu, yang jika ditotal jumlahnya hampir ratusan ribu orang.

Namun, pasangan Capres-Cawapres lain juga memiliki potensi menang di Madura. Kita tahu bahwa Cawapres dari Capres Ganjar Pranowo, yakni Mahfud MD, tidak lain merupakan salah satu putra terbaik Madura. Ditambah lagi, track record Mahfud MD yang sudah malang melintang di dunia pemerintahan sudah tidak perlu diragukan lagi.

Dia pernah menjabat sebagai anggota DPR RI pada 2004-2008, kemudian Menteri Pertahanan pada 2000-2001, Menteri Kehakiman dan HAM pada tahun 2001, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) RI pada 2008-2013, serta Menko Polhukam pada 2019-2024. Bukan tidak mungkin, darah Madura yang mengalir dalam diri serta segudang pengalamannya itu membuat orang Madura menjatuhkan pilihan Pilpres pada pasangan Ganjar-Mahfud.

Meski begitu, pasangan Capres-Cawapres Prabowo-Gibran juga memiliki peluang yang tidak kalah besar untuk meraup suara terbanyak Madura. Bukan tanpa alasan, banyak kalangan pengusaha dan birokrat di pulau garam yang berdeklarasi untuk memenangkan pasangan tersebut. Selain itu, dalam dua Pilpres terakhir pada 2014 dan 2019, Prabowo berhasil meraih kemenangan di Madura, meskipun suara nasional kalah.

Siapakah yang akan berjaya? Apakah Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar? Atau Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka? Ataukah Ganjar Pranowo-Mahfud MD? Kita boleh saja menerka jawabannya. Tetapi hasil akhir tetap akan diketahui setelah pemungutan dan penghitungan suara selesai.

Nurul Ulum, Jurnalis Lebur.id